Sepanjang pekan lalu, sedikitnya 14 konvoi logistik Rusia ludes terbakar di jalur-jalur strategis yang menghubungkan perbatasan Rusia dengan Krimea dan wilayah pendudukan di Ukraina selatan. Bukan oleh serangan artileri konvensional. Melainkan oleh drone berukuran kecil yang terbang ratusan kilometer dan memilih sendiri targetnya.
Inilah yang oleh Kyiv disebut strategi "logistics lockdown". Menteri Transformasi Digital Ukraina Mykhailo Fedorov mengatakan pendekatan ini dirancang untuk menghambat kemampuan Rusia mempertahankan operasi ofensif secara berkelanjutan, dengan menekan militer Moskow bukan di garis depan, melainkan jauh di belakangnya.
Teknologi yang jadi tulang punggungnya: drone Hornet, dilengkapi sistem penargetan berbasis kecerdasan buatan yang dilatih menggunakan ribuan jam rekaman target militer Rusia selama lebih dari empat tahun perang. Menurut analis persenjataan dari Janes, Nick Brown, sistem ini mampu mengidentifikasi dan menyerang sasaran secara otomatis begitu target ditemukan, bahkan tanpa koneksi real-time dengan operator. Jaringan satelit Starlink tetap dimanfaatkan untuk menjaga tautan komunikasi jarak jauh, sekaligus membuat drone ini lebih tahan terhadap gangguan sinyal elektronik Rusia.
Skalanya tidak main-main. Lembaga pemantau konflik Atum Mundi memverifikasi penghancuran sekitar 150 kendaraan Rusia yang berada lebih dari 20 kilometer dari garis depan. Analis Clément Molin memperkirakan angka itu baru mencerminkan separuh dari total serangan yang sesungguhnya terjadi.
Rekaman yang diverifikasi BBC Verify memperlihatkan truk kontainer dan kendaraan militer hangus di sepanjang koridor Mariupol-Melitopol, rute vital untuk memasok kebutuhan pasukan Rusia di Semenanjung Krimea. Tekanan ini, agaknya, mulai terasa nyata di pihak Moskow. Militer Rusia dilaporkan mulai memperpendek konvoi untuk meminimalisir kerugian akibat serangan drone, sebuah perubahan taktis yang justru memperlambat laju distribusi pasokan mereka.
Bayangkan angkanya: satu brigade militer bisa membutuhkan hingga 1.000 ton bahan bakar, amunisi, makanan, dan perlengkapan setiap hari. Robert Tollast, pakar perang darat dari Royal United Services Institute (RUSI), yang menaruh angka itu di atas meja, menilai kemampuan Ukraina menyerang truk amunisi lebih dari 100 kilometer dari garis depan menggunakan drone kecil merupakan tantangan serius yang belum pernah dihadapi Moskow pada skala ini.
Cristian Vlas dari ACLED punya pembacaan yang lebih luas. Baginya, tujuan Ukraina bukan sekadar merontokkan aset militer bernilai tinggi, tapi melumpuhkan ekosistem di baliknya: konvoi pasokan, pos komando, menara komunikasi, semuanya kini masuk daftar incaran.
Analisis Institute for the Study of War (ISW) menambahkan lapisan yang menarik untuk dicermati: untuk pertama kalinya sejak 2023, Ukraina mulai mampu merebut kembali wilayah lebih banyak dibanding yang hilang, meski belum ada perubahan besar di garis depan dalam beberapa bulan terakhir. Apakah strategi gerus-logistik ini yang mendorong pergeseran itu? Bisa jadi. Kalau data ini bisa dipercaya, hubungan sebab-akibatnya mulai terbentuk.
Pertanyaannya sekarang, seberapa jauh Rusia mampu beradaptasi sebelum tekanan ini benar-benar menggigit?