Sebuah dokumen setebal sepuluh halaman yang disiapkan GRU, badan intelijen militer Rusia, bocor ke publik lewat laporan The Economist. Isinya cukup untuk bikin Pentagon tidak nyaman.
Dokumen itu menguraikan rencana Moskow menyuplai Iran dengan 5.000 drone serat optik jarak pendek, sejenis drone yang selama ini dipakai Rusia untuk menghajar pasukan Ukraina di garis depan. Proposal tersebut juga mencakup tawaran drone jarak jauh berpemandu satelit dalam jumlah yang belum diungkap, plus program pelatihan operator skala besar. Paket lengkap yang, kalau benar-benar terealisasi, bisa mengubah peta perang AS-Iran dari ujung ke ujung.
Ini bukan sekadar desas-desus diplomatik. Moskow memang lama disebut-sebut memberi dukungan intelijen yang membantu drone Iran membidik pasukan Amerika di Timur Tengah. Tapi dokumen GRU ini, kalau otentik, menjadi bukti pertama bahwa Rusia mempertimbangkan untuk masuk lebih dalam: dari berbagi intelijen ke pasokan senjata dalam jumlah masif.
Soal pilihan teknologinya, ada alasan kuat di baliknya. Drone serat optik tidak dikendalikan lewat sinyal radio seperti drone konvensional, melainkan lewat kabel tipis yang terulur di belakang badan drone. Karena tidak memancarkan frekuensi radio, drone ini nyaris kebal terhadap sistem electronic warfare lawan. Operator bisa mengarahkannya untuk serangan presisi hingga jarak lebih dari 40 kilometer, tanpa khawatir dijamming. Di Ukraina, drone jenis ini mulai muncul sejak 2024, tepat sebagai respons atas maraknya penggunaan jammer oleh kedua pihak yang bertikai.
Bukan main.
Drone serat optik serupa sudah dilaporkan muncul di Lebanon, dipakai Hizbullah untuk menyerang pasukan Israel. Pejabat Israel mengonfirmasi drone itu dipasok IRGC Iran, meski enggan bicara soal apakah pada awalnya berasal dari Rusia.
Bagian kedua proposal GRU menyentuh drone jarak jauh berpemandu satelit yang dilengkapi terminal Starlink. Rusia sebelumnya mengandalkan jenis ini untuk mengincar sistem pertahanan udara dan jalur logistik Ukraina dari kejauhan. Pada 2026, Elon Musk memblokir akses angkatan bersenjata Rusia ke Starlink di Ukraina. Di Timur Tengah, belum ada pembatasan serupa. Proposal itu secara gamblang menyebut bahwa sebelum akses Starlink di kawasan ini akhirnya dimatikan, drone tersebut bisa menciptakan "kekacauan" bagi pasukan AS. Framing yang agaknya sengaja dipilih untuk menekankan urgensi kepada Teheran.
Soal operator, rencana GRU tidak kalah ambisius. Dokumen itu mengusulkan perekrutan dari sekitar 10.000 mahasiswa Iran yang tengah belajar di universitas-universitas Rusia. Kandidat lain yang disebut: warga Tajik yang menguasai bahasa Rusia dan varian bahasa Persia, serta komunitas minoritas Alawite di Suriah yang loyalis rezim Assad. Seluruh calon operator akan disaring ketat dari sisi loyalitas dan risiko ekstremisme.
Enam pekan pertama perang AS-Iran. Itulah perkiraan waktu ketika proposal ini disusun, ketika bayang-bayang serangan darat Trump ke Iran masih sangat nyata, termasuk skenario perebutan Pulau Kharg, terminal minyak vital Iran. Salah satu diagram dalam dokumen secara spesifik menggambarkan bagaimana operator drone Iran yang dilatih Rusia bisa menghajar armada pendaratan AS dengan kawanan lima hingga enam drone yang diluncurkan dari posisi tersembunyi 15-30 kilometer dari pantai. Kapal pendarat AS, karena kecepatannya yang rendah, dinilai sangat rentan. Entah kebetulan atau tidak, itu persis titik lemah yang paling sulit ditutupi.
Banyak yang masih gelap. Belum ada bukti langsung bahwa dokumen ini diserahkan ke Iran, apalagi bahwa drone-nya sudah benar-benar terkirim. Sumber intelijen regional yang mendapat penjelasan soal rencana ini menilai proposal tersebut masuk akal, tapi belum bisa memverifikasinya secara independen.
Christo Grozev, pakar intelijen Rusia, menyebut proposal ini sejalan dengan bukti-bukti lain bahwa GRU sedang aktif mencari cara meningkatkan dukungan kepada Iran dalam perangnya melawan AS dan Israel.
Dokumen GRU itu sendiri mengakui Rusia masih sangat terserap perang Ukraina yang kini memasuki tahun kelima, sehingga sumber daya yang bisa dialokasikan untuk Iran terbatas. Tapi ada kalkulasi menarik di balik tawaran ini. Bantuan semacam ini tetap bisa disangkal secara resmi. Rusia bisa mempersulit operasi militer AS tanpa harus mengaku terlibat langsung dalam konflik yang melibatkan Amerika Serikat. Deniability, dalam kamus Moskow, bukan fitur tambahan. Itu strategi inti.