SENIN, 28 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Diplomasi Jakarta-Moskow: RI dan Rusia Satu Suara...

Internasional

Diplomasi Jakarta-Moskow: RI dan Rusia Satu Suara Soal Timur Tengah

Wamenlu Anis Matta bertemu Deputi Menlu Rusia Georgy Borisenko di Moskow, menyepakati kesamaan pandangan soal krisis Timur Tengah sekaligus membahas tuduhan Rusia bahwa AS sengaja memicu kekacauan global demi mengalihkan isu Palestina.

Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Muhammad Anis Matta bertemu Deputi Menteri Luar Negeri Rusia, Georgy Borisenko di Moskow, Rusia, Rabu (13/5/2026). Foto: Kemenlu

Wakil Menteri Luar Negeri Muhammad Anis Matta terbang ke Moskow pekan ini bukan sekadar kunjungan seremonial. Pertemuannya dengan Deputi Menteri Luar Negeri Rusia Georgy Borisenko pada Rabu (13/5/2026) menyentuh sejumlah titik panas geopolitik yang belakangan kian memanas, dari Selat Hormuz hingga Suriah, dengan Palestina sebagai benang merah yang mengikat semuanya.

Dalam sesi konsultasi bilateral di Moskow, kedua negara mengakui ada perubahan konstelasi politik yang bergerak sangat cepat di kawasan Timur Tengah. Bukan kalimat diplomasi biasa. Di saat bersamaan, pihak Rusia secara terbuka menuding Amerika Serikat sengaja memicu konflik di penjuru dunia demi mengaburkan krisis kemanusiaan di Gaza. Tuduhan keras yang, entah kebetulan atau tidak, muncul tepat ketika Jakarta dan Moskow duduk semeja membahas isu yang sama.

Indonesia dan Rusia sepakat memperkuat koordinasi lewat platform multilateral, termasuk Organisasi Kerja Sama Islam dan BRICS. Keduanya menegaskan urgensi stabilitas kawasan sekaligus mendorong perdamaian yang berkelanjutan. Bagi Jakarta, posisi ini konsisten: dukungan penuh terhadap kemerdekaan dan kedaulatan Palestina ditegaskan kembali, baik di jalur bilateral maupun forum internasional.

Pertemuan ini bukan yang pertama. Anis Matta sebelumnya menerima kunjungan Mikhail Bogdanov, Deputi Menlu sekaligus Utusan Khusus Presiden Rusia untuk Timur Tengah dan Afrika, di Jakarta pada 27 Mei 2025. Kurang dari setahun, dua kali dialog tingkat tinggi khusus untuk kawasan yang sama. Kontinuitas semacam ini jarang terjadi tanpa agenda yang cukup serius di baliknya.

Agenda Moskow juga mencakup dinamika keamanan di Lebanon dan perkembangan terbaru di Suriah. Dua variabel yang selama ini jadi termometer ketegangan regional. Rusia punya kepentingan langsung di keduanya. Indonesia, meski tidak sekuat itu secara militer, punya modal lunak: reputasi sebagai negara Muslim terbesar di dunia yang selama ini menjaga jarak dari blok-blok kekuatan besar. Kalau data ini bisa dipercaya, modal itulah yang membuat Jakarta tetap relevan di meja perundingan manapun.

Apakah sinergi Jakarta-Moskow ini cukup menggeser dinamika di Timur Tengah? Agaknya tidak dalam waktu dekat. Tapi dalam geopolitik, membangun kanal komunikasi yang terpercaya di saat krisis justru sering lebih berharga dari sekadar deklarasi bersama yang penuh retorika dan minim aksi. Itulah yang tampaknya sedang dirajut kedua negara, satu pertemuan dalam satu waktu.