JUMAT, 2 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Dinasti Soros Borong 18 Kavling di Shelter Island,...

Internasional

Dinasti Soros Borong 18 Kavling di Shelter Island, Warga Lokal Murka

Keluarga miliarder George Soros memicu kontroversi setelah membeli sedikitnya 18 kavling tanah di kawasan elit Shelter Island, Hamptons, lewat jaringan perusahaan cangkang yang sempat menyembunyikan identitas mereka.

Keluarga George Soros Borong Lahan di Shelter Island New York

Shelter Island bukan sekadar pulau kecil di ujung timur Long Island. Bagi warganya, tempat ini rumah yang diwariskan turun-temurun, dengan pantai, ruang hijau, dan komunitas yang masih mengenal tetangganya satu sama lain. Kini, semua itu terancam gelombang uang dari nama paling kontroversial di jagat keuangan global: dinasti Soros.

Keluarga miliarder George Soros dilaporkan telah memborong sedikitnya 18 kavling tanah di kawasan elit Shelter Island, Hamptons, New York. Nilai transaksinya mencapai jutaan dolar. Caranya pun tidak biasa: serangkaian LLC anonim dipakai untuk menutup identitas pembeli asli, sebelum pelacakan dokumen publik akhirnya mengurai benang merahnya dan semua jalur bermuara ke keluarga besar taipan finansial itu.

Dampaknya langsung terasa di dompet warga. Harga tanah meroket, bak air pasang yang tak peduli siapa yang ditenggelamkan. Generasi muda setempat kini mendapati diri mereka tergusur bukan oleh pemerintah, tapi oleh kekuatan modal yang hampir tak terbatas.

"Mereka datang dengan uang yang tidak terbatas, membeli apa saja yang bisa dibeli, dan membangun benteng-benteng beton raksasa. Mereka benar-benar merusak keindahan alami pulau ini dan menjepit ruang hidup kami," ujar seorang warga lokal yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Kritik tidak berhenti di soal harga. Kavling-kavling yang dulu berupa ruang terbuka hijau atau rumah tradisional bernilai sejarah kini diratakan demi properti megah. Aktivis lingkungan mengecam keras, menyebut penguasaan wilayah pesisir oleh segelintir konglomerat sebagai pengorbanan ekosistem demi kepuasan ego belaka. Klaim yang, agaknya, sulit dibantah ketika 18 kavling berpindah tangan dalam satu siklus transaksi. Masif.

Hamptons telah mengalami transformasi dramatis selama satu dekade terakhir, bergeser dari kawasan pinggiran yang tenang menjadi arena status bagi kaum satu persen. Pandemi mempercepat proses itu. Para miliarder berlomba mencari ruang isolasi mewah di luar kota, dan uang mereka mendistorsi pasar properti lokal secara permanen. Shelter Island bukan korban pertama. Entah juga bukan yang terakhir.

Skema Anonymous LLC seperti yang dipakai dalam transaksi ini bukan taktik baru di kalangan super-kaya. Perusahaan cangkang adalah alat standar: meredam resistensi sosial sebelum proyek besar disetujui, sekaligus membuka celah efisiensi pajak lokal. Praktik ini kini menyulut perdebatan nasional di Amerika Serikat soal sejauh mana regulasi perlu membatasi kepemilikan tanah oleh segelintir konglomerat. Pertanyaannya, siapa yang cukup berani mendorong aturan itu sampai garis finish?

Hingga berita ini ditulis, baik perwakilan keluarga Soros maupun Open Society Foundations belum mengeluarkan satu pun komentar resmi. Bagi warga Shelter Island, diam itu mungkin terasa lebih menyakitkan dari kata-kata apa pun.