Menteri Energi AS Chris Wright terbang ke Caracas bukan untuk kunjungan seremonial. Rabu (2/9/2026), ia hadir langsung untuk mengawasi penandatanganan serangkaian kesepakatan energi yang, kalau dihitung-hitung, boleh jadi salah satu transaksi sumber daya alam terbesar dalam sejarah modern.
Angkanya tidak main-main. AS mengambil alih kontrol mayoritas atas lebih dari 65 miliar barel minyak mentah Venezuela, hampir 20 persen dari total cadangan terbukti negara itu yang terbesar di dunia. Pemerintah Venezuela memproyeksikan pendapatan 209 miliar dollar AS, sekitar Rp 3.696 triliun, mengalir ke kas negara dalam 25 tahun ke depan.
Sorotan media yang menyebut Washington "mencuri minyak Venezuela" langsung ditepis Wright di Bandara Caracas. "Saya telah melihat tenggat-tenggat berita itu. 'Kami mencuri minyak Venezuela'. Tentu saja, itu sama sekali tidak benar," katanya kepada wartawan, termasuk AFP. Ia menegaskan hak kepemilikan sumber daya tidak berpindah tangan, bahwa royalti dan pajak tetap mengalir ke Caracas, dan bahwa peran AS hanyalah membawa modal serta teknologi untuk menggarap cadangan yang selama ini "menganggur di bawah tanah."
Framing yang rapi. Klaim yang masih perlu dibuktikan waktu.
Struktur kesepakatannya sendiri mengungkapkan banyak hal. Pentagon, melalui Office of Strategic Capital, memegang 35 persen saham di North American Blue Energy Partners (NABEP). Departemen Luar Negeri AS mengantongi hak membeli 20 persen produksi NABEP dengan harga pokok, plus akses prioritas terhadap 80 persen produksi lainnya. Sebuah konstruksi yang, entah kebetulan atau tidak, membuat Washington punya kaki di hampir setiap sudut rantai produksi.
NABEP milik Alejandro Betancourt. Di sini ceritanya menjadi menarik.
Betancourt bukan nama baru di radar hukum. Miliarder Venezuela ini pernah jadi subjek penyelidikan di tiga yurisdiksi, AS, Spanyol, dan Swiss, terkait dugaan penggelapan lebih dari satu miliar dollar AS dari PDVSA, perusahaan minyak negara Venezuela. Dana itu diduga dicuci lewat properti Miami dan rekening bank di Malta serta Swiss. Ia bagian dari kelompok pengusaha muda Venezuela yang dikenal sebagai Bolichicos, kalangan yang menumpuk kekayaan di era Hugo Chavez.
Awal 2026, jaksa federal AS di Florida tiba-tiba menghentikan sementara penyelidikan terhadapnya. Empat sumber yang mengetahui perkara ini menyebut penghentian itu datang setelah jaksa mendapat tekanan dari atasan. Para jaksa yang menangani kasus tersebut tidak mendapat penjelasan apa pun soal alasannya. Setelahnya, tekanan serupa diarahkan ke Swiss, yang pada Mei 2026 mencabut permintaan ekstradisi Betancourt dari Inggris, meski proses pidana di Swiss kabarnya masih berjalan.
Kantor Kejaksaan Umum Zurich beralasan pencabutan itu berkaitan dengan ketentuan hukum ekstradisi Inggris. "Permintaan ekstradisi dicabut karena aspek tertentu dalam hukum ekstradisi Inggris yang tidak dapat kami bahas secara terperinci," begitu pernyataan resminya. Pakar hukum antikorupsi Swiss Mark Pieth tidak terkesan. Ia menyebut langkah itu tidak lazim jika penyelidikan pidana masih aktif berjalan.
Apa yang membuat Betancourt tiba-tiba berharga bagi Washington? Tujuh sumber menyebut ia memberikan informasi yang membantu penegakan blokade laut AS terhadap kapal tanker minyak bersanksi di Venezuela, operasi yang berujung pada penyitaan lebih dari selusin kapal. Ia juga memfasilitasi komunikasi dengan Delcy Rodriguez, mantan Wakil Presiden Maduro yang kini menjalankan pemerintahan interim setelah pasukan AS menggulingkan Nicolas Maduro pada Januari lalu.
Sepanjang Januari hingga akhir Agustus, perdagangan yang ia ikut fasilitasi mendorong ekspor lebih dari 135 juta barel minyak Venezuela ke AS, Eropa, India, dan Karibia. Sekitar separuh dari total ekspor minyak Venezuela dalam periode itu.
Presiden Trump menyebut ini "kesepakatan minyak terbesar dalam sejarah dunia." Tapi soal pemilu Venezuela, ia menolak desakan untuk segera menggelarnya. "Saya pikir mereka belum siap. Anda tahu, ini masih sangat baru. Kami mengeluarkan mereka dari kediktatoran, dan kami berhubungan sangat baik dengan pemerintah," kata Trump, tanpa elaborasi soal kapan "siap" itu tiba.
Caracas menghitung proyeksi pendapatan 25 tahun ke depan. Washington mengklaim sedang menyelamatkan ekonomi Venezuela. Pertanyaannya, ketika penyelidikan korupsi dihentikan demi kepentingan geopolitik, siapa yang sesungguhnya membayar harganya?