SELASA, 13 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Demokrat Gelar Serangan Tiga Front ke Trump: Pemak...

Internasional

Demokrat Gelar Serangan Tiga Front ke Trump: Pemakzulan, Amendemen ke-25, hingga Pembatasan Perang

Ancaman Trump yang dianggap bernada genosida terhadap Iran memicu gelombang tekanan dari dalam negeri sendiri, mulai dari tuntutan pemakzulan hingga seruan pemecatan lewat Amendemen ke-25.

Ancaman Donald Trump terhadap Iran pada 7 April lalu ternyata membuka luka lama di Washington. Bukan dari luar, tapi dari dalam negeri sendiri.

Sejumlah politisi Demokrat mengajukan tuntutan pemakzulan, menilai pernyataan Trump yang mengancam akan melenyapkan peradaban Iran sebagai indikasi niat genosida, yakni tindakan sistematis untuk memusnahkan suatu bangsa atau kelompok etnis. Serius. Bukan sekadar retorika musiman.

Yang lebih keras datang dari John Brennan, mantan Direktur CIA era Barack Obama. Brennan terang-terangan menyebut Trump tidak waras dan mendesak penggunaan Amendemen ke-25 Konstitusi AS untuk menyingkirkannya dari kursi presiden. Amendemen itu mengatur prosedur pencopotan presiden yang dianggap tidak mampu menjalankan tugasnya. Brennan bahkan menegaskan bahwa amendemen tersebut memang dirancang khusus untuk situasi seperti ini, pernyataan yang menampar keras kalangan pendukung Trump di Capitol Hill.

Ini bukan percobaan pertama. Sudah dua kali sebelumnya upaya pemakzulan dilayangkan, dan keduanya kandas. Percobaan ketiga ini agaknya bernasib serupa, setidaknya dalam waktu dekat.

Di DPR AS, Partai Republik bergerak cepat menutup celah. Pada 9 April, anggota DPR dari New Jersey, Chris Smith, memimpin sesi "pro forma" singkat lalu menutupnya sebelum kubu Demokrat sempat mengesahkan resolusi penghentian operasi militer AS terhadap Iran. Manuver prosedural yang sederhana, tapi efektif. Resolusi itu gugur sebelum sempat dipungut suara.

Tindakan itu bersifat simbolis, dan memang begitu adanya. Tapi Demokrat tidak mundur. Para pemimpin di DPR maupun Senat telah berjanji memaksakan pemungutan suara soal pembatasan wewenang perang begitu kongres kembali dari reses pekan depan.

Pertarungan ini, jujur saja, lebih dari sekadar soal Iran. Debat konstitusional puluhan tahun soal seberapa jauh presiden bisa melancarkan operasi militer tanpa restu Kongres kembali memanas, bak api yang tidak pernah benar-benar padam setiap kali bom mulai dijatuhkan.

Isu kondisi mental Trump ikut menggelinding. Sejumlah anggota DPR Demokrat secara terbuka menyinggung gejala demensia yang diklaim dialami presiden, memperkuat narasi bahwa Trump tidak lagi layak memegang jabatan tertinggi di negeri itu. Klaim yang masih perlu dibuktikan secara medis, entah kebetulan atau tidak, justru muncul bersamaan dengan eskalasi militer di Timur Tengah yang kian sulit dikendalikan.

Republik menutup barisan. Demokrat terus menggedor. Dan Trump tampak tidak terlalu terganggu.

Pertanyaannya: berapa lama koalisi Republik di Kongres bisa menahan gelombang ini, terlebih jika konflik dengan Iran terus meningkat?