SENIN, 12 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Datang dengan Satu Gigi Sakit, Pulang Tanpa 12 Gig...

Internasional

Datang dengan Satu Gigi Sakit, Pulang Tanpa 12 Gigi dan Rekening Kosong

Seorang pria 63 tahun di China datang ke klinik dengan satu gigi sakit, pulang tanpa 12 gigi dan tanpa uang. Klinik kini disanksi dan ditutup sementara.

Klnik Cabut 12 Gigi Pasien Sekaligus, padahal Cuma Keluhkan Satu Gigi Sakit

Li datang ke klinik gigi dengan satu keluhan sederhana: satu gigi yang nyeri. Ia pulang dengan mulut penuh darah, rekening terkuras, dan 12 gigi yang sudah tidak ada lagi di tempatnya.

Pria 63 tahun asal Baoji, Provinsi Shaanxi itu mendatangi Datuanyuan Dental Clinic pada September 2025. Klinik ini, agaknya, jauh lebih jago urusan pemasaran ketimbang urusan medis. Li mengaku tergiur jargon seperti "Dapatkan implan gigi di pagi hari dan langsung makan daging di siang hari" serta "Miliki gigi lengkap, hidup hingga usia lebih dari 100 tahun." Staf klinik bahkan menjemput Li langsung dari rumah menggunakan mobil, dengan iming-iming pemeriksaan gratis sebagai pancingan.

Yang terjadi kemudian bukan pemeriksaan. Seluruh 12 gigi yang tersisa di mulut Li dicabut sekaligus, lalu digantikan dengan 10 pasang implan baru. Rp 50,1 juta, setara 18.800 yuan, tersedot dari rekening bank dan dompet digital Li oleh staf klinik. Belum cukup: ia masih menanggung tagihan 6.200 yuan (sekitar Rp 16,5 juta) yang belum terbayar.

Ketika putranya akhirnya menemukan Li, kondisinya mengkhawatirkan. "Mulut saya penuh darah dan saya hanya memiliki 30 yuan tersisa untuk ongkos bus," ungkap Li kepada media lokal.

Yang membuat kasus ini lebih dari sekadar malpraktik biasa adalah riwayat kesehatan Li. Jantung koroner, infark miokard, diabetes, hipertensi, empat stent jantung, daftarnya panjang. Pada pasien dengan kondisi seperti ini, pencabutan gigi bukan prosedur yang bisa dilakukan sembarangan, apalagi dalam skala sekaligus 12 gigi. Fu Dongjie, dokter gigi di Rumah Sakit Renmin Universitas Wuhan, menegaskan bahwa penderita diabetes sebaiknya tidak menjalani implan gigi sebelum kondisi mereka benar-benar terkontrol. Preseden buruknya sudah ada: pada 2024, seorang pria China meninggal 13 hari setelah 23 giginya dicabut dan 12 implan dipasang dalam satu prosedur.

Keluarga Li tidak tinggal diam. Mereka melaporkan klinik ke otoritas kesehatan setempat dan menemukan sejumlah kejanggalan serius pada rekam medis, data jenis kelamin Li tercatat sebagai perempuan, dan dokumen-dokumen itu diduga baru dibuat setelah prosedur berlangsung. "Apakah benar ada konsultasi dengan dokter jantung sebelum prosedur? Kenapa keluarga pasien tidak diberi tahu? Mereka benar-benar berani," protes putra Li.

Setelah menyelidiki, biro kesehatan setempat menyatakan klinik bersalah atas sejumlah pelanggaran. Seluruh biaya pengobatan diperintahkan dikembalikan kepada Li, dan operasional klinik dihentikan sementara.

Pertanyaannya, berapa banyak Li lain yang tidak beruntung? Kasus ini membuka kembali luka lama di industri klinik gigi swasta China: seberapa jauh tenaga medis boleh mengeksploitasi pasien yang datang dengan informasi minim dan kepercayaan penuh. Li, kalau data ini bisa dipercaya, termasuk golongan yang beruntung bisa pulang dengan selamat.