Dua tentara AS tewas, satu hilang, empat luka-luka. Serangan Iran ke fasilitas militer AS di Yordania pada 18 Juli itu jadi pemantik langsung serangkaian respons Washington yang kini merambah ke wilayah yang belum pernah disentuh sejak konflik ini pecah: fasilitas nuklir Iran.
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi serangan udara diluncurkan pukul 18.00 waktu AS atas perintah langsung Presiden Donald Trump. Targetnya mencakup fasilitas pengawasan pantai dan sistem pertahanan udara militer Iran. Tapi dari semua yang diserang, satu nama langsung menyita perhatian: Darkhovin.
Organisasi Energi Atom Iran mengutuk serangan yang menghantam PLTN Darkhovin, sebuah pembangkit tenaga nuklir yang masih dalam konstruksi di barat daya Iran. Proyeknya baru mulai dibangun 2022. Serangan itu, kata mereka, "pelanggaran nyata terhadap hukum internasional" karena fasilitas tersebut berada di bawah pengawasan internasional. Pernyataan disampaikan di platform X, tanpa merinci seberapa parah kerusakan yang timbul. Teheran, agaknya, memilih tidak memperlihatkan terlalu banyak kartu.
Ini bukan ledakan yang datang tiba-tiba. Konflik yang resmi dimulai 28 Februari 2026 sempat "dihentikan" lewat memorandum yang ditandatangani kedua pihak pada malam 18 Juni, dimediasi Pakistan. Bertahan kurang dari sebulan. Militer AS dilaporkan kembali menyerang sejak 8 Juli, dan pada 9 Juli Trump secara terbuka menyatakan gencatan senjata itu tidak lagi berlaku. Bak lilin yang ditiup angin.
Iran tidak tinggal diam. Pasukan Teheran membalas dengan menghantam Kamp Al-Adiri dan Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait pada dini hari 19 Juli, menggunakan drone. Keduanya bukan sasaran baru, sudah berulang kali dihajar sejak pekan lalu. Fasilitas desalinasi dan pembangkit listrik Kuwait juga kembali jadi target, untuk kedua kalinya dalam dua hari.
Mohsen Rezaei, penasihat militer untuk Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei, memperingatkan bahwa Iran siap melancarkan "operasi ofensif skala penuh" jika AS tidak menghentikan serangan udara dalam beberapa hari ke depan. Klaim yang masih perlu dibuktikan seberapa jauh Teheran mampu menjalankannya. Tapi pasar energi global, entah kebetulan atau tidak, sudah pasti mencerna sinyal itu dengan serius.
Angka korban? Tidak main-main. Kementerian Kesehatan Iran merilis data hingga 17 Juli: setidaknya 50 orang tewas, lebih dari 500 cedera sejak pertempuran kembali memanas. Kantor berita Mehr melaporkan serangan AS juga menyasar lokasi di dekat Sirik, Iran selatan, tanpa korban jiwa. Tasnim menyebut ada penargetan di dekat Shadegan, tak jauh dari perbatasan Irak.
Trump menyebut gugurnya dua tentaranya sebagai "peristiwa yang sangat menyedihkan," tapi langsung menegaskan Washington tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir. Kedutaan Besar AS di Amman mengeluarkan peringatan kepada warga Amerika agar menjauhi bandara dan pelabuhan di Aqaba, menyebut ancaman yang "spesifik dan kredibel."
Selat Hormuz kini membara lagi. IRGC memperingatkan kapal-kapal yang berafiliasi dengan AS agar tidak memasuki perairan yang mereka klaim tidak aman. Iran juga mengeklaim berhasil menembak jatuh drone tempur LUCAS (Low-cost Uncrewed Combat Attack System) milik AS di wilayah selatan negara itu, foto puing-puingnya dirilis IRNA. Washington belum memberi konfirmasi.
Darkhovin sudah kena. Konflik ini masuk babak yang berbeda sekarang.