Maeurn Smiles bukan nama yang biasa muncul di berita pendidikan. Tapi perempuan asal Cebu, Filipina ini viral bukan karena kontennya di OnlyFans, melainkan karena apa yang ia lakukan dengan uang yang ia hasilkan dari sana.
Pada 2024, ia membeli sebidang tanah di Naga, Cebu seharga 1,75 juta peso, setara sekitar Rp 486 juta, dengan rencana menghibahkannya kepada pemerintah setempat untuk dibangun sekolah. Rencana itu kandas di satu syarat: nama. Pemerintah tidak mengizinkan sekolah itu diberi nama mendiang ayahnya. Bagi Maeurn, penghormatan itu bukan sekadar formalitas. Ia memutuskan mengurus pembangunannya sendiri.
Gedung utama belum berdiri. Tapi pusat pembelajaran skala kecil sudah beroperasi sejak 2025, tempat anak-anak sekitar bisa belajar sains, memasak, dan kegiatan lainnya. Kalau semua berjalan sesuai rencana, sekolah yang selesai dibangun nantinya mampu menampung sekitar 300 murid.
Cerita hidupnya tidak dimulai dari kemewahan. Keluarganya tidak punya biaya untuk menyekolahkannya ke perguruan tinggi. Di usia 18 tahun, ia mencari uang sebagai guru bahasa Inggris untuk pelajar asal China, sebelum akhirnya membuka akun OnlyFans pada 2019. Ketertarikannya pada dunia pendidikan, agaknya, sudah lama bersarang di kepalanya jauh sebelum ia punya uang untuk mewujudkannya.
Penghasilan dari platform dewasa itu kini menanggung banyak hal: biaya sekolah adik-adiknya, bahan makanan bulanan keluarga, tagihan rumah tangga. Sekolah di Naga hanyalah satu lagi dari daftar panjang itu.
Dalam wawancara dengan TMZ pada Agustus 2026, Maeurn bicara lugas. "Keputusannya sangat mudah diambil. Sekarang, saya merasa aman di rumah sendiri, saya bisa menjadi diri sendiri sekaligus membahagiakan para penggemar dan keluarga. Semua pihak diuntungkan. Kalau tidak begini, entah bagaimana saya mencari uang. Kesempatan bagi perempuan di Filipina tidaklah banyak," ujarnya.
Kalimat terakhir itu yang paling menggigit. Di balik viralnya kisah ini ada pertanyaan yang lebih besar: kenapa perempuan di negara berkembang harus menempuh jalan sepanjang itu hanya untuk bisa membangun satu sekolah kecil di kampung halamannya sendiri?