MINGGU, 27 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Danantara Bidik Pariwisata, Prabowo Pangkas BUMN J...

Ekonomi

Danantara Bidik Pariwisata, Prabowo Pangkas BUMN Jadi 250

Pemerintah menyiapkan strategi ganda: mendorong pariwisata dan ekonomi kreatif sebagai mesin devisa baru lewat Danantara, sekaligus memangkas lebih dari 750 BUMN yang dinilai hanya jadi beban anggaran.

Menata Mesin Pelancongan: Kala Danantara Bidik Pariwisata Jadi Penggerak Ekonomi

Dua agenda besar pemerintahan Presiden Prabowo Subianto bergerak bersamaan pekan ini. Keduanya bermuara pada satu kata: efisiensi.

Prabowo mengumumkan pemangkasan drastis jumlah BUMN dari lebih dari 1.000 perusahaan menjadi sekitar 250. Artinya, lebih dari 750 entitas akan ditutup. Bersamaan dengan itu, pemerintah menyiapkan Danantara sebagai tulang punggung pengembangan ekosistem pariwisata, event olahraga, konser musik, dan industri kreatif. Entah kebetulan atau tidak, kedua langkah ini saling mengunci.

"Bayangkan, lebih dari 750 kita tutup," kata Prabowo dalam penutupan Sarasehan Kebangsaan KSTI 2026 di Jakarta, Minggu (22/6/2026). Presiden mempertanyakan logika mempertahankan ratusan BUMN yang tidak menghasilkan laba tapi terus memakan overhead, mulai dari gaji direksi, komisaris, hingga biaya operasional. "Perusahaan tidak untung hanya bayar overhead," tegasnya, dengan nada yang tidak menyisakan ruang untuk negosiasi.

Dari total sekitar 1.000 BUMN, lebih dari 200 sudah ditutup. Target konsolidasi: rampung dalam dua tahun, menghasilkan BUMN yang lebih ramping, transparan, dan berorientasi publik. Soal laba, Presiden mengakui mulai ada tanda-tanda perbaikan. "Danantara terima kasih. Satu tahun ini sudah mulai ada laba," ujarnya.

Namun narasi Danantara tidak berhenti di restrukturisasi BUMN. Sehari sebelumnya, Kepala Danantara yang juga Menteri Investasi Rosan Perkasa Roeslani menemui Presiden Prabowo di kediaman pribadi di Kertanegara. Agenda sentral pertemuan itu: mendorong pariwisata sebagai sektor strategis berikutnya.

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengonfirmasi arah tersebut. Pemerintah, kata Teddy, tengah mengidentifikasi peluang pertumbuhan ekonomi baru yang bisa didorong Danantara, "termasuk penguatan sektor pariwisata melalui penyelenggaraan event olahraga, konser musik, hingga industri kreatif yang mampu menciptakan lapangan kerja, menarik investasi, dan meningkatkan perputaran ekonomi nasional."

Alasan memilih pariwisata cukup solid. Data BPS mencatat kunjungan wisatawan mancanegara sepanjang Januari-April 2026 mencapai 4,68 juta kunjungan, tumbuh 8,24% secara tahunan. Devisa pariwisata di kuartal I/2026 menembus US$4,05 miliar, naik 6,3% dibanding periode sama tahun lalu. Rata-rata belanja wisatawan asing pun terkerek jadi US$1.345,61 per kunjungan, naik 5,36% secara tahunan. Bukan angka kecil.

Bandingkan dengan tetangga, dan gambarannya langsung terasa kurang nyaman. Data UN Tourism menunjukkan Thailand menerima sekitar 32,9 juta wisatawan asing pada 2025. Malaysia mendekati 28 juta. Singapura mencatat lebih dari 13 juta kunjungan dengan nilai belanja per kapita yang jauh lebih tinggi. Indonesia, dengan lebih dari 17.000 pulau dan kekayaan budaya terbesar di kawasan, masih berjuang mengembalikan angka kunjungan ke level pra-pandemi yang sempat 16,1 juta orang pada 2019.

Rosan mengakui ketertinggalan ini secara terbuka. "Kalau kita lihat jumlah pariwisata di Indonesia, dibandingkan negara-negara ASEAN, masih tertinggal cukup lumayan jauh, dibandingkan Malaysia, Thailand, Singapura," ungkapnya saat ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan. Bagi pejabat sekaliber Kepala BKPM, pengakuan seperti itu biasanya mengawali langkah konkret.

Paradigma pun mulai bergeser. Pemerintah tidak lagi sekadar menghitung kepala wisatawan yang datang, tapi membangun ekosistem. Rosan menyebut perlunya fokus lebih terarah karena Indonesia selama ini kebanjiran pilihan destinasi tanpa ada yang benar-benar didorong serius. "Kita harus lebih memfokuskan... dari segi logistiknya, kenyamanannya, transportasinya, aksesibilitasnya, kebersihannya," jelasnya.

Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menambahkan konteks strategis. Pemerintah kini memprioritaskan quality tourism, bukan sekadar volume. "Fokus kami tidak lagi semata-mata mengejar jumlah kunjungan, tetapi juga meningkatkan kualitas kunjungan wisatawan. Karena itu, kami terus mendorong peningkatan lama tinggal wisatawan, peningkatan pengeluaran wisatawan, serta penyebaran kunjungan ke lebih banyak destinasi," tuturnya. Diversifikasi pasar pun masuk daftar prioritas, dengan Australia, Malaysia, Singapura, China, India, Jepang, dan Korea Selatan sebagai sasaran utama.

Pelaku industri menyambut dengan hati-hati. Sekjen ASITA Budijanto Ardiansjah mengingatkan bahwa tanpa konektivitas udara yang memadai dan harga tiket bersaing, promosi destinasi baru akan jalan di tempat. Tiket pesawat domestik yang mahal masih mengganjal wisatawan nusantara, yang sebetulnya menjadi bantalan industri saat kunjungan asing melambat. Perjalanan wisatawan nusantara tercatat 417,06 juta perjalanan sepanjang Januari-April 2026, tapi hanya tumbuh 1,48% secara tahunan. Agaknya belum memuaskan siapapun.

Pertanyaannya sederhana: apakah Danantara, dengan mandat investasi yang lebih fleksibel dibanding APBN, mampu mengisi gap infrastruktur dan konektivitas yang selama ini membekap pariwisata Indonesia? Pengalaman MotoGP Mandalika memperlihatkan satu event besar bisa menggerakkan ekonomi regional secara masif. Kalau model itu bisa direplikasi di 10 atau 20 destinasi serentak, hitungannya berubah total.