SENIN, 28 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Dana Beku Iran Cair, Trump Incar Pasar Gandum Tehe...

Internasional

Dana Beku Iran Cair, Trump Incar Pasar Gandum Teheran untuk Petani AS

Di balik gencatan senjata AS-Iran, ada drama dana beku $12 miliar dan rencana Trump yang memancing sinisme dari Teheran hingga Kongres.

Trump Sebut Iran Kekurangan Pangan, Mau Pakai Dana Teheran untuk Beli Hasil Pertanian AS

Enam miliar dolar AS, sekitar Rp107 triliun, akan segera berpindah dari rekening yang dibekukan di Qatar menuju Teheran. Presiden Iran Masoud Pezeshkian membenarkan pencairan itu, menyebut prosesnya berjalan sesuai program yang telah disepakati, dengan sisa enam miliar dolar lagi masih dalam proses negosiasi.

Bagi Donald Trump, angka ini bukan sekadar pencairan aset pascaperang. Ia punya skenario lain.

Berbicara dari Gedung Putih pada Kamis (25/6/2026), Trump menyebut Iran sebagai "pasar baru yang indah" bagi petani Amerika. Ia mengklaim Teheran dilanda krisis pangan akibat konflik, dan sebagian dana yang dicairkan akan segera dipakai membeli gandum, kedelai, dan jagung, semuanya produk AS. "Pembelian dalam jumlah besar akan segera dimulai," tegasnya. Dua hari sebelumnya, lewat Truth Social, Trump sudah membunyikan nada serupa: sanksi terhadap aset Iran akan dicabut khusus untuk pembelian pangan dan pasokan medis dari Amerika.

Teheran merespons dengan dingin, nyaris sinis. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei menyindir bahwa sungguh menarik melihat tujuan perang yang semula digembar-gemborkan sebagai upaya menghancurkan peradaban Iran kini berubah wajah menjadi proyek memperkaya petani Amerika. Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf lebih blak-blakan. Ia menulis di X bahwa satu-satunya "panen" yang dipetik AS dari hubungan bilateral ini adalah puluhan tahun ketidakpercayaan yang mereka tanam sendiri. Soal kedelai GMO dan janji-janji yang diingkari, Ghalibaf juga sempat menyinggungnya.

Konflik militer antara AS dan Iran secara resmi berakhir lewat memorandum yang ditandatangani pada 18 Juni, mengakhiri pertempuran yang dimulai 28 Februari. Kesepakatan itu mengatur pencabutan blokade angkatan laut AS di pelabuhan Iran, pemulihan pelayaran di Selat Hormuz, dan janji Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir, dengan program nuklir Teheran bakal dibahas lewat perjanjian tersendiri. Kedua pihak dijadwalkan kembali berunding dalam 60 hari.

Rencana Trump soal pangan, kalau data ini bisa dipercaya, datang di waktu yang cukup pas secara politik. Sektor pertanian AS sedang tidak prima. Kebijakan tarif resiprokal yang diberlakukan sejak Trump kembali ke Gedung Putih pada Januari 2025 memukul ekspor produk pertanian dan menekan harga, memaksa pemerintah menggelontorkan dana talangan 12 miliar dolar AS, atau sekitar Rp214 triliun, pada Desember lalu. Penutupan Selat Hormuz di musim semi menghambat impor pupuk dan minyak. Kebijakan deportasi menggerus tenaga kerja di ladang-ladang.

Angka yang tidak main-main. Trump juga tengah mendorong Kongres menyetujui tambahan anggaran sebesar 87,6 miliar dolar AS, sekitar Rp1.562 triliun, yang di dalamnya termasuk dukungan tambahan bagi petani AS.

Pertanyaannya, apakah Iran benar-benar akan membeli dari Washington? Atau dana yang cair ini justru mengalir ke jalur lain yang sudah direncanakan Teheran jauh sebelum Trump mengumumkannya di podium Gedung Putih?