Angka Rp181 triliun bukan lahir dari satu malam. Sejak 2007, pemerintah rutin menyisihkan sebagian APBN ke dalam dana abadi pendidikan, dan kini Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) menuai hasilnya dengan portofolio kelolaan yang melampaui ekspektasi banyak pihak.
Per 31 Mei 2026, total dana yang dikelola LPDP menyentuh Rp181 triliun. Bukan disimpan begitu saja, melainkan diinvestasikan untuk menghasilkan return yang kemudian membiayai beasiswa, riset, dan program pengembangan SDM, tanpa harus terus mengetuk pintu APBN.
Dana itu tersebar ke lima kantong. Yang terbesar adalah dana abadi pendidikan, termasuk dana abadi pesantren, dengan nilai Rp148 triliun. Sisanya: dana abadi penelitian sekitar Rp14 triliun, perguruan tinggi Rp11 triliun, kebudayaan Rp6 triliun, dan dana abadi untuk program Sekolah Unggulan Garuda senilai Rp1,7 triliun.
"Dana yang kita gunakan itu bukan dana abadinya ya. Namanya endowment fund, ini dana yang diamanahkan ke kita untuk kita kelola dan investasikan, untuk mencari return paling baik. Kalau semakin baik return-nya, berarti belanja kita juga menjadi makin besar dan semakin banyak yang bisa kita sekolahkan," jelas Direktur Utama LPDP Yon Arsal.
Logika sederhananya: semakin besar dana kelolaan dan semakin optimal return investasinya, semakin lebar kantong beasiswa yang bisa dibuka. Model ini, agaknya, mulai membuktikan dirinya.
Bersamaan dengan pengumuman angka tersebut, LPDP membuka pendaftaran beasiswa tahap II/2026 pada 30 Juni hingga 31 Juli 2026. Dua jalur utama tersedia: beasiswa STEM untuk industri strategis, dan beasiswa SHARE yang merangkum ilmu sosial, humaniora, seni, keagamaan, dan ekonomi.
Cakupan STEM di sini cukup lebar. Masuk di dalamnya: sektor pangan, energi, pertahanan, digitalisasi termasuk kecerdasan artifisial dan semikonduktor, kesehatan, hilirisasi, maritim, manufaktur, dan material maju. Kebijakan publik, hukum, dan bisnis yang bersinggungan dengan STEM juga ikut dalam payung program ini. Kalau data ini bisa dipercaya sebagai cermin prioritas negara, sinyalnya terang benderang.
Alokasi beasiswanya tegas: 80% untuk STEM dan bidang terkait, 20% untuk SHARE. Bukan angka yang turun dari langit. "Kita peningkatan STEM bergerak terus pada 2025 itu 66%-69%, lalu 2026 di 74%. Kita akan coba sampai minimal 80% ke STEM dan STEM related," kata Yon. Tren ini konsisten, dan pemerintah jelas sedang mengarahkan talenta nasional ke satu titik.
Selain dua jalur utama, LPDP juga membuka beasiswa akselerasi di universitas unggulan, program kerja sama khusus termasuk beasiswa keolahragaan, serta beasiswa talenta riset dan inovasi nasional jalur doctor by research. Variatif, tapi gravitasinya tetap sama: industri strategis dan kompetensi teknis.
Satu hal yang kerap luput dari perhatian calon pendaftar: sumber dananya adalah pajak. Uang yang terkumpul dari wajib pajak setiap tahun, disisihkan, dikelola, lalu dikembalikan ke masyarakat dalam bentuk kesempatan belajar. Tanggung jawab penerimanya bukan sekadar akademis. Lebih dari itu.