JUMAT, 9 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Dan Driscoll Mundur, Luka Lama di Jantung Pentagon

Internasional

Dan Driscoll Mundur, Luka Lama di Jantung Pentagon

Sekretaris Angkatan Darat AS Dan Driscoll diperkirakan mundur sebelum akhir 2026, menyusul perseteruan panjang dengan Menteri Perang Pete Hegseth yang kini mengancam stabilitas kepemimpinan militer Amerika.

Sekretaris AD AS Dan Driscoll Dikabarkan Mundur Usai Berseteru

Rumah dinas di Joint Base Myer-Henderson Hall sudah kosong. Keluarga Driscoll dilaporkan telah pindah ke North Carolina. Dua sinyal itu, bagi siapa pun yang mengikuti dinamika Pentagon, sudah cukup untuk membaca arah angin.

Wall Street Journal, Jumat (22/8), melaporkan bahwa mantan anggota Army Ranger itu kemungkinan besar akan mundur sebelum akhir 2026, bahkan bisa lebih cepat. Pemicunya bukan kebijakan, bukan anggaran, tapi sesuatu yang lebih manusiawi: gesekan personal yang tak kunjung reda dengan Menteri Perang Pete Hegseth.

Perselisihan keduanya bukan barang baru. Ketegangan bermula sejak awal pemerintahan Presiden Donald Trump, ketika Driscoll merencanakan kunjungan Wakil Presiden JD Vance dan Trump sendiri untuk menemui para prajurit dan membahas reformasi militer. Langkah itu, menurut sumber internal, justru dibaca Hegseth sebagai ancaman. New York Post mencatat Hegseth diliputi kekhawatiran posisinya bakal digeser oleh Driscoll.

Eskalasi berjalan cepat. "Karena itu, yang dilakukan Menteri Perang adalah menargetkan siapa pun yang dianggap dekat dengan Driscoll dan kemudian mengambil tindakan terhadap mereka," kata seorang pejabat pemerintahan AS. Pentagon, agaknya, tidak sekompak yang terlihat dari luar.

April lalu, Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Randy George dicopot Hegseth tanpa penjelasan resmi. Kursi itu kini diisi Pelaksana Tugas Jenderal Christopher LaNeVe. Bukan rotasi biasa, kalau data ini bisa dipercaya: ini pola pembersihan bertahap.

Yang membuat situasi ini terasa janggal, Trump justru memuji Driscoll secara terbuka dalam sebuah konferensi pertahanan di Pennsylvania bulan lalu. "Senyum yang indah," kata Trump, sembari menyebut Driscoll sebagai "seorang pembunuh", nada yang, bagi Trump, jelas terdengar sebagai pujian. Sinyal membingungkan dari puncak komando, mengingat anak buahnya tengah sibuk menyudutkan sosok yang sama.

Rekam jejak Driscoll selama 18 bulan memimpin tidak bisa dianggap enteng. Ia berhasil mengantongi komitmen investasi swasta lebih dari 25 miliar dolar AS untuk pembangunan pusat data dan fasilitas pengolahan mineral di pangkalan-pangkalan militer. Angka yang tidak main-main. Bisa jadi itulah yang juga membuatnya terlalu menonjol di mata Hegseth.

Kepergian Driscoll, bila benar terjadi, membuka lubang kepemimpinan baru di saat yang tidak ideal. Militer AS sedang dihajar dua tekanan sekaligus: eskalasi ketegangan dengan Iran dan dorongan modernisasi teknologi pertahanan yang belum tuntas. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah Driscoll akan pergi. Tapi siapa yang cukup berani mengisi kursi yang ia tinggalkan.