RABU, 30 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Tekno  ›  Cyberdeck: Komputer Rakitan Gen Z yang Sengaja Tid...

Tekno

Cyberdeck: Komputer Rakitan Gen Z yang Sengaja Tidak Ingin Diseragamkan

Tren komputer rakitan retro-futuristik bernama cyberdeck kian digemari Gen Z, bukan semata karena fungsinya, tapi sebagai bentuk perlawanan diam-diam terhadap dominasi perangkat pabrikan.

Apa Itu Cyberdeck? Komputer Rakitan yang Sedang Populer di Kalangan Gen Z

Laptop dari Apple, Dell, atau Lenovo terasa kurang? Sebagian anak muda rupanya sepakat, dan mereka merespons dengan cara yang tidak biasa: merakit komputer sendiri dari nol, lengkap dengan casing buatan tangan, layar mungil, dan papan ketik yang entah dari mana asalnya.

Itulah cyberdeck. Komputer portabel DIY berbasis sistem papan tunggal seperti Raspberry Pi, dipadukan dengan komponen tidak seragam, sering kali dari bahan bekas atau daur ulang, lalu dibungkus estetika retro-futuristik yang susah dijelaskan tapi mudah dikenali. Tidak ada dua cyberdeck yang sama. Memang tidak dirancang untuk itu.

Konsepnya sebenarnya sudah tua. Akarnya bisa dilacak ke novel Neuromancer karya William Gibson, salah satu kitab suci genre cyberpunk. Tapi versi modern yang kini ramai di TikTok bukan soal fiksi ilmiah, melainkan soal komunitas modifikasi komputer yang menemukan kembali semangatnya di era media sosial.

Bagi kreator seperti ubeboobey di TikTok, cyberdeck dibuat agar "unik bagi pemiliknya" dan dirancang murni untuk "tujuan Anda sendiri." Bukan untuk dijual massal. Bukan untuk diproduksi ulang. Kreativitas di atas segalanya.

Fungsi teknisnya lumayan beragam, kalau data komunitas ini bisa dipercaya. Ada yang menyulapnya jadi konsol gaming retro yang bisa menjalankan judul-judul dari era 1980-an dan 1990-an. Ada yang membangunnya sebagai server pribadi untuk hosting situs web atau menyimpan data secara offline. Komunitas keamanan siber pun ikut melirik: cyberdeck bisa jadi platform pengujian portabel yang praktis tanpa harus mempertaruhkan laptop utama. Mobilitas dan fleksibilitas adalah poin jualnya.

Tapi mayoritas yang ramai di media sosial agaknya bukan datang dari sisi teknis semata. Cyberdeck lebih banyak diperbincangkan sebagai medium ekspresi diri, perangkat yang mencerminkan kepribadian, kebutuhan, bahkan keterbatasan bahan yang dimiliki pembuatnya. Satu komentar yang viral menyebut kerinduan pada teknologi yang benar-benar modular, yang berbeda dari arah yang terus dikembangkan perusahaan teknologi besar.

Sentimen itu bukan sekadar nostalgia. Ada nada frustrasi yang cukup nyata terhadap ekosistem tertutup yang makin mengurung pengguna, mulai dari baterai yang tak bisa dilepas hingga suku cadang yang sengaja dipersulit. Cyberdeck, dengan sistem terbukanya yang bisa ditukar dan dimodifikasi kapan saja, terasa seperti sanggahan diam-diam terhadap model bisnis itu. Pertanyaannya, berapa lama tren ini bertahan sebelum ada korporasi yang mencium peluang?

Komunitas ini sendiri cukup waspada terhadap komersialisasi. Memproduksi cyberdeck secara massal dianggap akan merusak esensi gerakan ini. Bukan bisnis, ini kerajinan. Ibarat perbedaan antara membeli jaket rajut di toko dan merajutnya sendiri di malam Minggu.

Apakah cyberdeck akan menggantikan laptop konvensional? Hampir pasti tidak. Performa Raspberry Pi tidak akan mengalahkan chip M-series milik Apple dalam waktu dekat, entah kebetulan atau tidak, justru itu yang bikin sebagian komunitas ini cuek. Bagi mereka, cyberdeck bukan soal kemenangan teknis. Ini soal merebut kembali rasa memiliki atas teknologi yang selama ini terasa makin jauh dari tangan penggunanya.