SENIN, 5 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  CPO, Migas, dan Emas Ketiban Durian Runtuh dari Ge...

Ekonomi

CPO, Migas, dan Emas Ketiban Durian Runtuh dari Gejolak Global , tapi Regulasi Bisa Memangkas Pesta

Lembaga pemeringkat Pefindo dan S&P Global kompak menilai sektor komoditas unggulan Indonesia berada di posisi kuat di tengah ketidakpastian geopolitik dan tekanan rupiah, meski risiko kebijakan dan struktural belum sepenuhnya reda.

Pefindo dan S&P Sebut Komoditas RI Diuntungkan Situasi Geopolitik

Dua kuartal terakhir pasar dibuat was-was oleh kombinasi pelemahan rupiah dan eskalasi ketegangan geopolitik. Bagi sebagian emiten, kondisi ini menjadi mimpi buruk. Bagi sebagian lainnya, khususnya yang bermain di hulu komoditas, justru bak gayung bersambut.

Pefindo dan S&P Global Ratings secara terpisah menyampaikan pandangan serupa: sektor komoditas utama Indonesia, yakni minyak kelapa sawit (CPO), hulu minyak dan gas bumi, serta pertambangan emas, berada di jalur yang relatif aman, bahkan berpotensi meraup cuan dari situasi global yang tidak stabil ini.

Kepala Divisi Pemeringkatan Nonjasa Keuangan-1 Pefindo Martin Pandiangan menjelaskan bahwa keunggulan ketiga sektor ini bukan kebetulan. Arus kas dalam denominasi dolar AS, ditambah keseimbangan permintaan-penawaran yang masih kondusif, jadi pelindung alami ketika rupiah tertekan. "Kami memproyeksikan sektor komoditas seperti CPO, hulu migas, dan emas akan diuntungkan dari dinamika geopolitik dan depresiasi rupiah, terutama karena keseimbangan permintaan-penawaran dan arus kas dalam denominasi dolar AS," ungkap Martin.

S&P Global mengamini. Associate Director Corporate Ratings S&P Global Ratings Ker Liang Chan menyebut kenaikan harga hidrokarbon dan logam di pasar global kemungkinan besar akan mengimbangi potensi kenaikan biaya produksi yang ikut terdongkrak. Tidak sedikit yang dipertaruhkan di sini.

Ceritanya berbeda di sisi hilir. Sektor pengolahan logam dan petrokimia diperkirakan kena tampar oleh kombinasi keterbatasan bahan baku, kenaikan biaya energi, dan volatilitas permintaan industri. Batu bara, nikel, telekomunikasi, dan barang konsumsi pokok agaknya akan merasakan dampak yang cenderung netral, tidak terlalu diuntungkan, tapi juga tidak babak belur.

Risiko terbesar justru datang dari arah yang kerap diremehkan pelaku pasar: kebijakan dan regulasi. Liang Chan menegaskan, pengetatan kuota produksi untuk komoditas seperti nikel dan batu bara termal berpotensi menggerus daya saing, terutama bagi operator skala kecil yang marginnya sudah tipis. Penegakan hukum lingkungan dan pemberantasan penambangan ilegal, kalau benar-benar dieksekusi serius, bisa menambah lapisan ketidakpastian. Investor berpikir dua kali, kalau data ini bisa dipercaya, sebelum menambah eksposur ke sektor ini.

Di sisi pendanaan, S&P menilai kondisi domestik masih cukup mendukung. Pergeseran korporasi Indonesia menuju pembiayaan rupiah dalam beberapa tahun terakhir terbukti mengurangi ketergantungan pada utang valas, sehingga depresiasi moderat rupiah tidak serta-merta mengguncang neraca perusahaan. "Ini mencerminkan pergeseran menuju pendanaan domestik dalam beberapa tahun terakhir, yang mengurangi ketergantungan pada utang valuta asing dan meningkatkan ketahanan terhadap guncangan eksternal," jelas Liang Chan.

Pefindo juga menyoroti peran BUMN yang semakin berfokus pada integrasi hilir dan efisiensi operasional sebagai faktor yang bisa memperkuat daya saing. Tapi Martin mengingatkan ada sisi gelapnya. Belanja modal yang didanai utang bisa menggelembungkan beban keuangan, sementara kelayakan ekonomi sejumlah proyek ambisius masih perlu dibuktikan di lapangan. "Kami juga mengantisipasi risiko keuangan dan struktural, khususnya terkait peningkatan leverage dari belanja modal yang didanai utang dan kelayakan ekonomi proyek-proyek kompleks," ujar Martin.

Bagi investor yang sudah menaruh posisi di emiten komoditas hulu, sinyal dari dua lembaga rating ini cukup melegakan. Pertanyaan sesungguhnya bukan apakah sektor ini diuntungkan. Sudah jelas iya. Yang belum jelas: seberapa jauh regulasi domestik akan memangkas ruang geraknya sebelum pesta benar-benar dimulai.