JUMAT, 25 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Citra Satelit Bongkar Kerusakan NSA Bahrain yang D...

Internasional

Citra Satelit Bongkar Kerusakan NSA Bahrain yang Disembunyikan Pentagon, Relokasi ke Israel Masuk Pertimbangan

Investigasi Wall Street Journal membongkar fakta yang selama ini disembunyikan Pentagon: pangkalan Angkatan Laut AS di Bahrain rusak jauh lebih parah dari yang diakui publik akibat serangkaian serangan rudal dan drone Iran.

Satellite images have confirmed damage to several US military facilities across West Asia following Iranian drone attacks, according to a report by The New York Times. The strikes reportedly hit US

Citra satelit tidak bisa berbohong. Itulah yang agaknya membuat Pentagon kesulitan mempertahankan narasi "kerusakan minimal" setelah investigasi The Wall Street Journal memperlihatkan kondisi Naval Support Activity (NSA) Bahrain yang sesungguhnya, markas besar Armada Kelima AS di kawasan Teluk.

Serangan berulang Iran antara akhir Februari hingga Juni tahun ini meninggalkan bekas yang jauh lebih dalam dari pengakuan resmi Washington. WSJ menggabungkan analisis citra satelit, potongan video media sosial, serta wawancara dengan personel militer aktif maupun mantan anggota dinas. Kesimpulannya keras: rudal dan drone Iran berhasil menembus sistem pertahanan udara AS dan menghantam bagian-bagian strategis pangkalan. Fasilitas yang hancur atau rusak berat mencakup markas komando utama, setidaknya sepuluh bangunan lain, dan dua terminal komunikasi satelit yang kritis untuk operasi militer di kawasan.

Pentagon, sampai laporan WSJ terbit, belum pernah secara terbuka mengakui skala kerusakan itu. Ini bukan sekadar soal transparansi. Pertanyaan yang lebih besar: seberapa rentan postur militer AS di Timur Tengah terhadap ancaman yang selama bertahun-tahun dianggap satu tingkat di bawah perang konvensional?

Juru Bicara CENTCOM Kapten Tim Hawkins berupaya meluruskan gambaran tersebut. Iran, ia sebut, menembakkan lebih dari 8.000 rudal dan drone sepanjang konflik, namun hanya dua yang mengakibatkan korban jiwa. "CENTCOM berhak memprioritaskan perlindungan orang-orang yang ada di dalam gedung-gedung, dan strategi kami adalah melindungi orang-orang yang bekerja. Iran menembakkan lebih dari 8.000 rudal dan drone dan hanya dua yang menghantam dan berujung pada jatuhnya korban," kata Hawkins kepada WSJ. AS sendiri, tambahnya, telah menghantam lebih dari 13.500 target milik Iran. Sebagian besar personel sudah dievakuasi sebelum gelombang serangan besar datang, setidaknya itu yang dijelaskan pihak militer.

Kerusakan fisiknya sudah terlanjur ada. Dan kalangan pejabat pertahanan AS kini diam-diam mengerjakan opsi yang implikasinya jauh lebih besar. Menurut dua pejabat yang dikutip WSJ, AS sedang menimbang relokasi sebagian pangkalan dan operasi ke arah barat, menjauhi jangkauan efektif rudal dan drone Iran. Skenario yang dievaluasi: memperkuat NSA Bahrain, memangkas jejak di Kuwait dan Arab Saudi, sekaligus menjajaki lokasi alternatif. Salah satu nama yang muncul adalah Israel.

Kalau opsi itu jadi kenyataan, bukan main konsekuensinya. Normalisasi hubungan Arab-Israel masih rapuh, bara Gaza belum benar-benar padam, dan kehadiran pangkalan militer AS secara permanen di Israel akan memukul kompleksitas diplomatik Washington dari berbagai arah sekaligus, termasuk dari sekutu-sekutu Arabnya sendiri.

Bagi investor dengan eksposur ke sektor pertahanan atau aset kawasan, perkembangan ini layak dipantau. Perubahan postur militer di skala ini biasanya tidak datang sendiri, ia menyeret perombakan anggaran, kontrak, dan peta aliansi yang ikut bergeser bersamanya.