Sepanjang tahun ini, harga komponen memori global terus merangkak naik. Meta memilih jalan yang tidak terpikirkan kebanyakan orang: menggali kembali RAM DDR4 dari server-server pensiun, lalu memasangnya ke infrastruktur AI teranyar mereka yang secara spesifikasi pabrik hanya mengenal DDR5.
Bukan sekadar trik murahan. Dalam dokumen teknis yang dipresentasikan di konferensi ISCA 2026 akhir Juni lalu, Meta membuka rekayasa di baliknya: sebuah chip ASIC CXL 2.0 kustom bernama Vistara. Chip ini dirancang khusus sebagai jembatan antargenerasi, memungkinkan modul DDR4 lama hidup berdampingan dengan platform DDR5 tanpa menimbulkan masalah kompatibilitas serius atau penalti latensi yang menghambat performa.
Server AI baru Meta dijuluki MemServers, ditenagai prosesor AMD Epyc Turin berkekuatan 158 core dan 316 thread. Turin, secara teknis, tidak kenal DDR4. Tapi dengan Vistara, setiap unit kini bisa memuat total 1 TB memori gabungan: 768 GB DDR5-6400 sebagai memori utama, ditambah 256 GB DDR4-2400 yang terhubung lewat jalur CXL.
Kecerdikan sistemnya ada di lapisan perangkat lunak. Vistara memperlakukan kumpulan DDR4 sebagai NUMA node terpisah tanpa CPU, sehingga sistem bisa memilah data secara otomatis. Hot pages, data yang paling sering diakses, tinggal di DDR5 yang melesat. Cold pages dilempar ke pool DDR4 yang lebih lambat. Pembagian kerja yang rapi, dan agaknya cukup elegan untuk ukuran solusi daur ulang.
Satu detail yang sering luput: tim teknis Meta juga harus memodifikasi driver CXL di sistem operasi Linux mereka agar komponen lawas itu bisa dikenali mesin-mesin modern. Jadi ini bukan sekadar pasang-colok. Ada pekerjaan tingkat sistem operasi yang bobotnya tidak kecil.
Hasilnya lumayan bikin melongo. Desain MemServers diklaim memangkas kebutuhan server inferensi AI hingga 25%, sekaligus memotong beban sistem tambahan seperti job-restart dan fragmentasi sebesar 33%. Kalau diterjemahkan ke skala infrastruktur Meta yang masif, angka-angka itu berarti penghematan belanja modal yang tidak main-main.
Meta bukan satu-satunya yang mengarah ke sini. Di panggung ISCA 2026 yang sama, Panmnesia, perusahaan semikonduktor fabless asal Korea Selatan, juga mempresentasikan chip pengontrol CXL kustom mereka. Pelan-pelan, CXL sebagai protokol interkoneksi memori tampaknya naik kelas dari sekadar wacana teknis menjadi senjata sungguhan bagi para hyperscaler yang ingin memeras efisiensi dari anggaran infrastruktur yang kian tertekan.
Pertanyaannya sekarang: berapa banyak DDR4 "sampah" yang masih tersimpan di rak-rak server para raksasa teknologi lain, menunggu dihidupkan kembali dengan cara serupa?