RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  China-Rusia Dukung Iran, tapi Ada Batasnya

Internasional

China-Rusia Dukung Iran, tapi Ada Batasnya

Beijing dan Moskow memainkan peran kunci dalam menopang Teheran menghadapi tekanan Washington, mulai dari ekonomi hingga diplomasi. Namun para analis memperingatkan: dukungan ini bersifat situasional, bukan tanpa syarat.

Apa sebenarnya niat Rusia ketika mereka belum siap membantu Iran?

Teheran tidak sendirian, setidaknya di atas kertas. Di balik tekanan bertubi-tubi dari Washington, Iran bersandar pada dua kekuatan besar yang selama ini berdiri di sisinya: China dan Rusia. Seberapa jauh keduanya bersedia melangkah, itulah pertanyaan yang sebenarnya.

Konflik berkepanjangan antara AS dan Iran kembali memanas seiring manuver diplomatik Presiden Donald Trump yang dinilai Teheran sebagai taktik mengulur waktu. Sebagai respons, Iran memperdalam hubungan dengan Beijing dan Moskow, baik untuk bertahan dari tekanan ekonomi maupun sebagai antisipasi jika konfrontasi militer benar-benar meletus.

Dukungan itu nyata dan terukur. China membeli minyak Iran dalam volume besar, sekaligus membangun jaringan penghindaran sanksi yang membuat blokade ekonomi Washington tidak berjalan semaksimal yang diharapkan. Tameng diplomatik datang dari Moskow, yang memberi bobot di forum-forum multilateral. Tanpa keduanya, agaknya Iran sudah jauh lebih terpojok.

Namun ada hal yang kerap luput dari narasi "blok kekuatan baru" ini. Mehdi Kharratiyan, Kepala Institute for Revival of Politics di Teheran, menyatakan kepada Newsweek bahwa Iran melihat langkah Trump sebagai upaya mengulur waktu. "Sebagai respons, Teheran secara logis akan memperkuat hubungan dengan Beijing dan Moskow untuk menghadapi tantangan ekonomi serta mempersiapkan diri jika konfrontasi militer kembali terjadi," ujarnya. Tapi bahkan ia pun tidak mengklaim kemitraan ini bersifat tanpa batas.

Tidak ada klausul pertahanan bersama. Teheran, menurut para analis, sangat sadar bahwa China maupun Rusia tidak akan berperang langsung demi kepentingan Iran. Alasannya sederhana dan sangat pragmatis: Beijing dan Moskow punya taruhan ekonomi besar dengan negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, rival utama Teheran di kawasan.

Jon Alterman dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) menyebut bahwa kedua negara pada dasarnya diuntungkan ketika AS tersedot ke dalam konflik yang menyita perhatian. Ini bukan solidaritas ideologis. Kalkulasi geopolitik, dingin dan presisi.

Pandangan yang lebih sinis pun beredar. Ada yang mempertanyakan niat Moskow secara lebih terbuka: Rusia dan China sejatinya ingin rival utama mereka terjebak dalam krisis Iran selama mungkin, menguras waktu dan sumber daya, sementara keduanya leluasa mengurus kepentingan regionalnya sendiri. Kerja sama ini, entah kebetulan atau tidak, lebih bersifat situasional ketimbang fundamental.

Faktor Lebanon turut memperumit gambaran ini. Iran bersikeras bahwa penyelesaian apa pun atas konflik dengan AS harus mencakup soal Lebanon secara menyeluruh, basis Hizbullah yang menjadi proksi utamanya. Negosiasi yang sempat dihajar oleh operasi militer Israel di wilayah tersebut memperlihatkan betapa ruwetnya peta kepentingan yang harus dinavigasi Teheran.

Bagi investor yang memantau kawasan, dinamika segitiga Iran-China-Rusia ini punya implikasi langsung pada harga energi global dan stabilitas jalur perdagangan di Teluk Persia, dua variabel yang getarannya terasa hingga lantai bursa Jakarta.