Kapal pengangkut berlabuh di Pelabuhan Havana akhir pekan lalu, membawa 15.000 ton beras sebagai gelombang pertama dari total komitmen 60.000 ton yang dijanjikan Beijing kepada Havana. Bantuan pangan itu dikonfirmasi Duta Besar China untuk Kuba Hua Xin sebagai yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir, datang di momen yang agaknya tidak bisa lebih kritis bagi pemerintahan Miguel Diaz-Canel.
Diaz-Canel tidak menyembunyikan kelegaannya. Lewat akun X pribadinya, ia menyebut kiriman ini sebagai "gestur solidaritas yang mulia" yang akan menjangkau jutaan konsumen di seluruh provinsi, termasuk institusi kesehatan dan pendidikan. Hubungan Havana dan Beijing, tegasnya, justru menguat di masa-masa krusial seperti sekarang. Framing yang terasa disengaja, terang-terangan merespons narasi isolasi yang selama ini dimainkan Washington.
Konteks di baliknya tidak sederhana. Kuba hidup di bawah embargo perdagangan AS sejak 1962, tapi situasi energi memburuk jauh lebih cepat sejak Januari lalu. Pemerintahan Donald Trump mengintervensi kebijakan energi regional, mengancam sanksi berat bagi siapa pun yang menjual minyak ke Havana. Venezuela, penyuplai utama selama ini, praktis terpotong dari rantai pasokan itu. Kebutuhan energi Kuba mencapai 100 ribu barel per hari, sementara produksi domestik hanya menutup sekitar 40 ribu barel. Defisitnya bukan angka kecil.
Pemadaman listrik melanda hampir seluruh wilayah. Data perusahaan listrik negara mencatat hingga 64 persen wilayah Kuba padam secara bersamaan pada Minggu kemarin. Di Havana, warga menanggung gelap hingga lebih dari 22 jam sehari. Pekan lalu bahkan mencatat rekor: 70 persen wilayah negara padam di jam konsumsi puncak. Pemerintah Kuba sendiri mengakui kondisi sektor energi berada dalam situasi "akut", "kritis", dan "sangat tegang". Pengakuan langka dari rezim yang biasanya menjaga narasi optimisme.
Untuk memulihkan sistem energi secara menyeluruh, sejumlah studi independen memperkirakan dibutuhkan dana antara US$8 miliar hingga US$10 miliar, atau sekitar Rp130 triliun hingga Rp163 triliun. Dalam kondisi embargo seperti sekarang, angka itu hampir mustahil dipenuhi sendiri.
Tekanan politik dari Washington terus meningkat. Jaksa Agung sementara AS Todd Blanche pekan lalu mengumumkan dakwaan federal terhadap mantan Presiden Raul Castro, terkait insiden penembakan dua pesawat sipil milik kelompok pengasingan Brothers to the Rescue pada 1996, yang menewaskan empat warga AS. Blanche, dalam konferensi pers di Miami, menyatakan Washington berharap Castro akan "muncul di sini, atas kehendaknya sendiri atau dengan cara lain". Diksi yang langsung memantik spekulasi soal kemungkinan intervensi militer, apalagi setelah komentar senada meluncur dari Trump dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio.
Tapi Kuba bukan Venezuela. Orlando Perez, pakar hubungan Amerika Latin dari University of North Texas, menyebut aparat keamanan Kuba telah membongkar hampir semua potensi kekuatan oposisi selama bertahun-tahun. Militer Kuba dinilai lebih solid secara ideologis, ditambah kemampuan intelijen dan pengawasan yang diasah sejak era Perang Dingin bersama Soviet dan, belakangan, diperkuat kerja sama dengan Beijing. Kalau data intelijen ini bisa dipercaya, operasi destabilisasi gaya Caracas akan jauh lebih sulit dijalankan di Havana.
94 tahun, dan masih berdiri tegak. Raul Castro, figur terakhir generasi revolusi yang masih hidup, terakhir muncul di depan publik pada peringatan Hari Buruh 1 Mei di kawasan pesisir Havana, di hadapan puluhan ribu massa, dengan sang cucu Raul Guillermo Rodriguez Castro memimpin pengawal pribadinya. Entah kebetulan atau tidak, kemunculan langka itu terjadi tepat ketika tekanan dari Washington sedang di titik paling keras dalam beberapa tahun terakhir.
Kiriman beras China, kalau dilihat hanya sebagai urusan logistik pangan, agaknya melewatkan gambar besarnya. Ini pernyataan bahwa Beijing tidak akan membiarkan Havana jatuh tanpa perlawanan diplomatik. Gelombang berikutnya dari 60.000 ton komitmen itu masih akan terus datang.