SABTU, 10 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  China di Balik Konflik Iran-AS: Satu Tangan Medias...

Internasional

China di Balik Konflik Iran-AS: Satu Tangan Mediasi, Satu Tangan Cari Untung

Di tengah ketegangan Iran versus Amerika Serikat dan Israel, China memainkan peran ganda yang cukup mengejutkan: mendorong gencatan senjata lewat jalur diplomasi senyap, sekaligus memastikan pasokan minyak murah dari Teheran tidak terganggu.

Beijing tidak pernah benar-benar memilih sisi dalam konflik Iran-Amerika Serikat. Setidaknya, itulah yang tampak di permukaan.

Belakangan terungkap bahwa China terlibat dalam upaya meredam eskalasi antara Washington dan Teheran lewat jalur komunikasi yang dibangun di balik layar. Peran itu disebut berkontribusi pada pembicaraan gencatan senjata, meski tak pernah diklaim secara terbuka oleh satu pun pejabat Beijing. Agaknya, memang begitu yang dikehendaki.

Tapi jangan salah baca situasinya.

Satu tangan sibuk meredam ketegangan. Tangan yang lain sedang meraup untung. China tercatat sebagai pembeli utama minyak mentah Iran, bahkan saat tekanan sanksi internasional seharusnya membuat perdagangan itu makin susah dijalankan. Caranya cukup cerdik: transaksi berjalan lewat jaringan perantara, kapal tanker bayangan, dan mekanisme pembayaran yang sengaja berputar menghindari sistem keuangan berbasis dolar. Hasilnya, Beijing mengantongi pasokan energi dengan harga di bawah pasar, sementara Teheran tetap punya jalur ekspor yang vital. Kalau angka yang beredar di kalangan analis energi bisa dipercaya, diskon itu mencapai belasan persen dari harga pasar.

Bukan kebetulan.

Bisa jadi memang ada insentif besar bagi Beijing untuk memastikan Iran tidak ambruk total, tapi juga tidak cukup perkasa untuk mendikte harga minyaknya sendiri. Posisi yang nyaris sempurna, kalau mau jujur.

Lapisan berikutnya lebih pelik. Sejumlah laporan menyebut sistem kecerdasan buatan asal China diklaim membantu Iran dalam mengidentifikasi lokasi pangkalan militer Amerika di kawasan Timur Tengah. Klaim ini masih perlu dibuktikan, dan Beijing menolaknya setiap kali muncul ke permukaan. Kemunculan berulang tuduhan itu sendiri sudah cukup untuk menambah kerumitan pada hubungan segitiga Beijing-Teheran-Washington yang sejak lama memang kusut.

Pasar energi global mencermati semua ini dari pinggir lapangan.

Ketegangan di Timur Tengah secara historis mendorong harga minyak mentah naik. Setiap eskalasi baru berpotensi menekan suplai dari kawasan yang menyumbang porsi besar produksi dunia. Bagi China, tekanan itu sebagian besar sudah dinetralisir sejak awal, karena pasokan dari Iran telah dikunci dengan harga diskon lebih dulu. Konflik ini ibarat pedang bermata dua. Tidak semua merasakan sayatannya sama dalam.

Strategi Beijing mencerminkan pendekatan yang sudah lama dikenal para analis kawasan: tidak berpihak secara terbuka, membangun ketergantungan ekonomi dengan semua aktor kunci, lalu memanfaatkan celah yang ditinggalkan sanksi Barat. Nyaman? Sangat. Sampai salah satu pihak benar-benar memaksa China angkat bicara dan pilih kubu.

Sejauh ini, belum ada yang berani.