Lebih dari 14.000 produk AI disikat paksa dari jaringan internet China sejak April 2026. Ini bukan penertiban biasa. Ini babak baru dalam cara Beijing mengendalikan teknologi yang tumbuh jauh lebih cepat dari kemampuan regulasinya untuk mengikuti.
Kampanye bernama "Qinglang", atau secara harfiah berarti Jernih dan Terang, dijalankan Cyberspace Administration of China (CAC) sebagai program tata kelola internet tahunan. Edisi 2026 berbeda: untuk pertama kalinya, AI menjadi sasaran utama di seluruh ekosistemnya. Selain 14.000 produk yang diturunkan, lebih dari 6 juta konten ilegal disapu dari jaringan, 26.000 akun ditangguhkan, 1.300 listing produk AI dicoret, dan sembilan dataset open-source ikut disikat karena dianggap melanggar aturan setempat.
Dua nama besar paling merasakan dampaknya: ByteDance dan Alibaba. Doubao dan Qwen, dua aplikasi AI dengan basis pengguna terbesar di Negeri Tirai Bambu, terpaksa mematikan fitur asisten virtual kustom mereka. Selama ini, kedua platform mengizinkan pengguna membuat dan mempersonalisasi asisten sendiri, dari gaya komunikasi, kepribadian, hingga keahlian spesifik. Kini fitur itu lenyap.
Biang keroknya ada di regulasi baru berlaku mulai 15 Juli: Peraturan Sementara untuk Layanan Interaktif Anthropomorphic AI, yang secara spesifik menyasar AI dirancang untuk membangun kedekatan emosional dengan pengguna. Regulasi ini melarang layanan virtual companion untuk anak di bawah umur, mewajibkan izin wali untuk pengguna di bawah 14 tahun, dan yang paling tajam, melarang AI yang "meniru kepribadian, cara berpikir, dan gaya komunikasi manusia untuk tujuan membangun interaksi emosional."
"Penggunaan agen AI seperti ini sebenarnya membutuhkan tingkat pemahaman dan literasi tertentu dari penggunanya," kata Pan Helin, anggota komite pakar di Kementerian Industri dan Teknologi Informasi China.
ByteDance dan tim Qwen memilih jalan yang berbeda dari kompetitor mereka. Ketimbang memodifikasi fitur untuk memenuhi syarat anti-kecanduan dan kewajiban "keluar instan" yang diatur regulasi baru, keduanya memilih mematikan fitur tersebut sepenuhnya. Tencent sudah lebih dulu mengambil langkah serupa dengan menghapus fitur kustom dari Yuanbao. Sejauh ini, baik ByteDance maupun Alibaba belum mengeluarkan pernyataan resmi.
Raksasa teknologi lain bergerak dengan cara masing-masing. Huawei menambahkan pemeriksaan khusus di toko aplikasinya. Alibaba memperketat sistem identifikasi konten. Zhipu membuat model review baru. DeepSeek menambah lapisan pengecekan untuk mencegah manipulasi data pelatihan.
Kampanye Qinglang 2026 ini menargetkan empat masalah utama: pelanggaran kewajiban registrasi model, penyaringan keamanan yang lemah, poisoning data AI, serta konten AI yang tidak diberi label jelas. Fase kedua yang akan datang agaknya lebih agresif, menyasar AI yang digunakan untuk menyebar disinformasi, meniru identitas orang, hingga menjalankan kampanye astroturfing berbayar.
Ada ironi yang tidak kecil di sini. Justru ketika persaingan AI dengan Amerika Serikat kian sengit, Beijing memperketat cengkeramannya pada industri yang sedang berlomba kecepatan. Perusahaan-perusahaan China kini dikenal bisa menyamai sistem AI terbaru dari AS hanya dalam hitungan bulan. Bahkan, menurut perusahaan keamanan Semgrep, model gratis Zhipu diklaim melampaui kemampuan Claude Opus 4.8 milik Anthropic dalam menemukan celah keamanan perangkat lunak. Klaim yang masih perlu diverifikasi lebih lanjut, tapi kalau data ini bisa dipercaya, ini bukan angka yang bisa diabaikan begitu saja.
Beijing agaknya sudah memutuskan: AI boleh pintar, tapi tidak boleh terlalu dekat dengan penggunanya.