SENIN, 5 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  CENTCOM Klaim Iran Lumpuh, Intelijen AS Justru Bil...

Internasional

CENTCOM Klaim Iran Lumpuh, Intelijen AS Justru Bilang Sebaliknya

Juru bicara CENTCOM sesumbar kemampuan militer Iran sudah hancur, tapi laporan intelijen internal AS mengungkap cerita yang jauh berbeda: Teheran sudah kembali produksi drone dalam hitungan pekan.

AS Klaim Sudah Hancurkan Kemampuan Militer Iran

Ada gap yang cukup mencolok antara klaim resmi militer AS dan temuan intelijen mereka sendiri soal kondisi Iran pascaserangan.

Kapten Tim Hawkins, juru bicara CENTCOM, sesumbar kepada Al Arabiya bahwa operasi militer AS terhadap Iran berjalan sangat efektif. Sebagian besar kemampuan militer Teheran diklaim sudah dihancurkan, termasuk infrastruktur manufaktur senjata, kemampuan peluncuran rudal, dan armada drone. Hawkins menegaskan Iran tidak lagi memiliki kemampuan ancaman seperti sebelumnya, dan AS tetap siap menjalankan rencana darurat apa pun bila situasi memburuk.

Laporan intelijen AS yang bocor ke CNN bercerita berbeda. Empat sumber yang mengetahui isi laporan tersebut menyebut Iran mampu memulihkan industri pertahanannya jauh lebih cepat dari semua proyeksi intelijen Barat. Teheran bahkan sudah kembali memproduksi drone tempur hanya beberapa pekan setelah gencatan senjata dimulai awal April, selama jeda konflik enam minggu berlangsung.

"Pihak Iran telah melampaui semua tenggat waktu yang ditetapkan oleh komunitas intelijen untuk rekonstitusi," kata seorang pejabat AS kepada CNN. Angka-angka dalam laporan itu cukup bikin dahi berkerut: sekitar dua pertiga peluncur rudal Iran diklaim masih bertahan setelah serangan, sebagian bahkan berhasil digali kembali saat gencatan senjata berlangsung. Sekitar 50% armada drone Iran disebut masih utuh, termasuk sebagian besar rudal jelajah pertahanan pantai yang selama ini menjadi senjata andalan Teheran untuk mengancam jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Bandingkan dengan klaim Komandan CENTCOM Laksamana Brad Cooper di hadapan Komite Angkatan Bersenjata DPR AS. "Operasi Epic Fury secara signifikan melemahkan rudal balistik dan drone Iran sekaligus menghancurkan 90% basis industri pertahanan mereka, memastikan Iran tidak dapat membangun kembali kekuatan militernya selama bertahun-tahun," kata Cooper. Klaim yang, agaknya, tidak sepenuhnya mencerminkan penilaian internal pemerintah AS sendiri.

Pemulihan secepat ini tidak datang dari ruang hampa. Dukungan teknologi dan komponen dari Rusia serta China disebut sebagai salah satu penyebab utama, di samping kerusakan yang dinilai tidak separah klaim awal AS-Israel. Dua sumber bahkan menyebut China masih memasok komponen yang bisa digunakan untuk produksi rudal selama konflik berlangsung, meski aliran itu mulai terhambat akibat blokade AS. Netanyahu ikut menuding Beijing soal ini. Kementerian Luar Negeri China, lewat juru bicara Guo Jiakun, menolak keras: tuduhan itu "tidak berdasarkan fakta."

Soal blokade, Hawkins menyebut pasukan AS telah mengalihkan rute lebih dari 80 kapal sejak blokade Selat Hormuz dimulai 13 April lalu. Bukan angka kecil. Selat itu bukan jalur sembarangan: seperlima ekspor minyak global melewati titik rawan ini, dan eskalasi di sana sudah cukup untuk membuat perusahaan pelayaran dan energi global menghitung ulang rute mereka.

Pertanyaannya, berapa lama klaim Cooper bisa bertahan kalau data lapangan terus berbicara sebaliknya? Intelijen AS memperkirakan Iran bisa memulihkan penuh kapasitas serangan drone dalam sekitar enam bulan, bukan bertahun-tahun. Kalau proyeksi itu benar, ancaman drone jarak jauh terhadap Israel dan negara-negara Teluk bisa kembali menjadi variabel yang tidak bisa diabaikan dalam kalkulasi geopolitik kawasan.