SABTU, 26 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Cak Imin Bidik Kemiskinan Ekstrem Nol Persen Akhir...

Ekonomi

Cak Imin Bidik Kemiskinan Ekstrem Nol Persen Akhir 2026, 88 Daerah Jadi Sasaran Utama

Pemerintah menargetkan kemiskinan ekstrem nol persen sebelum tutup tahun 2026, dengan 88 kabupaten/kota ditetapkan sebagai medan pertempuran utama pengentasan kemiskinan.

Menko Cak Imin: Target Kemiskinan Ekstrem 0 Persen di Tahun 2026

Angka 0,78 persen. Itulah posisi kemiskinan ekstrem Indonesia saat ini, turun dari 0,99 persen di 2024. Kecil memang, tapi justru di sinilah bagian paling alot: sisa yang tinggal sedikit itu biasanya yang paling susah dijangkau.

Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar tidak gamang menyebut targetnya. Sampai akhir 2026, kemiskinan ekstrem harus menyentuh nol persen. "Target kemiskinan ekstrem 2024 0,99 persen, tahun ini ditarget maksimal 0,38 atau akhir tahun 0 persen kemiskinan ekstrem. Sementara alhamdulillah 2025 ada di angka sudah 0,78 persen," kata Cak Imin dalam jumpa pers di Istana, Jakarta, Selasa (12/5/2026).

Bukan sekadar target tanpa peta jalan. Pemerintah sudah mengidentifikasi 88 kabupaten/kota sebagai titik konsentrasi. Seluruh kementerian dan lembaga terkait akan diarahkan ke sana, satu fokus, untuk memastikan kantong-kantong kemiskinan yang tersisa di wilayah-wilayah itu benar-benar habis sebelum tutup tahun.

Soal kemiskinan nasional, trennya bergerak ke arah yang benar. Dari 8,57 persen di 2024, tergerus ke 8,25 persen di 2025, dan tahun ini pemerintah mengejar 7,36 persen. Kalau tercapai, itu penurunan hampir satu poin penuh dalam satu tahun. Bukan main.

Muaranya: angka kemiskinan nasional 5 persen di 2029, target yang disandingkan Cak Imin dengan misi nol persen kemiskinan ekstrem tahun ini. "Kita optimis dan yakin kemiskinan ekstrem 2026 ini 0 persen, kemiskinan 5 persen di 2029. Beberapa kebijakan khusus nanti Bapak Presiden sendiri yang akan mengumumkan," ujarnya.

Optimis, kata Cak Imin. Tapi veteran pasar tahu betul: populasi miskin ekstrem yang tersisa biasanya terpencar di pelosok, sulit didata, dan tidak tersentuh program reguler. Bak cermin retak yang makin susah ditambal tiap pecahannya mengecil. Klaim ini masih perlu dibuktikan di lapangan, bukan di ruang rapat koordinasi.

Cak Imin juga menyebut ada kebijakan khusus yang akan diumumkan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto. Entah kebetulan atau tidak, framing itu seolah memberi sinyal ada instrumen baru yang sedang disiapkan, bukan cuma andalkan program lama.

Bagi investor di sektor konsumer, asuransi mikro, atau fintech yang bermain di segmen bawah piramida, angka-angka ini layak dicermati. Penurunan kemiskinan yang konsisten, kalau memang terealisasi, adalah sinyal daya beli yang sedang bangun dari tidur panjang.