RABU, 7 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Cadar Dirobek di Panggung, Robinson Panaskan Londo...

Internasional

Cadar Dirobek di Panggung, Robinson Panaskan London Lagi

Demonstrasi sayap kanan Unite the Kingdom di London diwarnai aksi teatrikal provokatif, sementara Tommy Robinson kembali menggerakkan massa dengan retorika anti-imigran yang makin keras.

Demonstrasi Sayap Kanan di London Diwarnai Aksi Provokatif Buka Cadar di Depan Umum

Tiga perempuan berpakaian serba hitam itu naik panggung, dan seisi lapangan terdiam sesaat. Lalu salah satu mendekat ke mikrofon, berteriak "Lepaskan!", sebelum ketiganya bergantian merobek niqab mereka dan melemparkannya ke tanah. Abaya copot. Berganti gaun mini ketat, disambut sorak-sorai massa dan kibaran bendera Union Jack.

Itulah momen yang paling banyak beredar dari demonstrasi Unite the Kingdom di London pekan lalu. Sebuah aksi yang digagas Tommy Robinson dan kini kembali menempatkan namanya di halaman depan media internasional.

Salah satu perempuan dalam aksi teatrikal itu sempat bicara ke kerumunan. "Kami datang dari Prancis untuk mendukung Anda," ujarnya, kalung salib emas kecil tampak melingkar di lehernya. Detail kecil yang agaknya disengaja sebagai bagian dari pesan yang ingin disampaikan.

Robinson tampil lebih dari sekadar orasi rutin. "Apakah Anda siap untuk Pertempuran Britania?" teriaknya dari panggung pada Sabtu (16/5), framing dramatis yang langsung viral. Ia juga menyinggung tekanan agar Perdana Menteri Keir Starmer mundur, seraya mendesak para pendukungnya bergerak lebih jauh dari sekadar turun ke jalan. "Kalian harus terlibat dan jadi aktivis atau kita akan kehilangan negara kita selamanya," tegasnya.

Bagi yang mengikuti jejak Robinson bertahun-tahun, retorika semacam ini sudah hafal di luar kepala. Tahun lalu ia menginisiasi demonstrasi serupa yang diklaim dihadiri lebih dari 110.000 orang, dan berujung ricuh besar. Polisi Inggris mencatat 26 petugas luka-luka, 25 demonstran ditangkap, sebagian karena mencoba menerobos barikade dan menyerang aparat. Wali Kota London Sadiq Khan mengecam keras. "Kekerasan dan penyerangan terhadap polisi tak bisa diterima," katanya.

Namanya juga sempat meledak pada Agustus 2024, ketika kasus penikaman tiga anak di Merseyside memantik gelombang sentimen anti-imigran. Robinson dituding sebagai salah satu yang menyiram bensin ke bara yang sudah panas. Pola klasik yang berulang.

Untuk aksi pekan lalu, belum ada laporan kerusuhan skala besar. Tapi gambar tiga perempuan merobek cadar di atas panggung sudah cukup memantik perdebatan. Bukan hanya soal kebebasan berekspresi, entah kebetulan atau tidak, tapi juga soal seberapa jauh provokasi terencana bisa dikemas sebagai "pernyataan politik". Pertanyaannya: apakah ini memang yang dicari? Bukan kerusuhan, melainkan gambar yang tak bisa diabaikan.