SENIN, 5 OKTOBER 2026

Home  ›  Tekno  ›  ByteDance dan Alibaba Matikan AI Persona, Regulasi...

Tekno

ByteDance dan Alibaba Matikan AI Persona, Regulasi Beijing Mulai Menggigit

Doubao, Qwen, dan Yuanbao serempak menghapus fitur asisten AI kustom menjelang berlakunya aturan ketat China per 15 Juli 2026 yang melarang layanan AI peniru emosi manusia.

ByteDance dan Alibaba Stop Layanan Asisten AI, Ditekan Beijing? - Teknologi

Tanggal 15 Juli bukan sekadar tenggat biasa bagi industri teknologi China. Itu garis batas yang ditarik Beijing untuk mengakhiri era chatbot yang bisa pura-pura jatuh cinta, pura-pura jadi sahabat, pura-pura memahami isi hati pengguna.

Pada 4 Juli, ByteDance Ltd. resmi mengumumkan bahwa Doubao, chatbot AI terpopuler di negeri itu, akan menonaktifkan fitur personalisasi persona mulai 15 Juli. Pengguna yang selama ini bisa membangun asisten AI dengan kepribadian, gaya komunikasi, dan "emosi" khusus sesuai selera kini harus rela fitur itu ditutup. ByteDance mengarahkan mereka ke aplikasi pendamping terpisah. Frasa resmi yang dipakai: "penyesuaian fungsionalitas produk." Setelah 15 Oktober, data percakapan terkait diproses ulang mengikuti kebijakan privasi perusahaan dan tidak lagi bisa diakses pengguna dari dalam aplikasi.

Satu hari berselang, 5 Juli, Alibaba Group Holding Ltd. mengeluarkan pengumuman senada untuk platform Qwen. Agen interaktif yang menyerupai manusia dan agen buatan pengguna dinonaktifkan mulai 10 Juli, penghentian penuh seluruh fungsi agen pada 15 Juli. Tencent Holdings Ltd. bahkan lebih dulu bergerak: Yuanbao, aplikasi asisten AI konsumennya, sudah dicopot dari fitur serupa sejak Juni lalu.

Bukan kebetulan. Bukan pula inisiatif sukarela. Ketiga langkah ini respons terhadap regulasi baru yang digawangi Cyberspace Administration of China, berlaku efektif pertengahan Juli, yang secara spesifik menyasar layanan AI yang "mensimulasikan kepribadian, pemikiran, dan komunikasi manusia untuk menciptakan emosi interaktif." Pacar virtual, terapis digital, segala bentuk AI yang dirancang bikin pengguna nyaman secara emosional, sekarang masuk zona terlarang.

Apa yang bikin Beijing resah agaknya bukan sekadar soal kecanggihan teknologinya. Regulasi ini, yang pertama kali diumumkan April lalu, lahir dari kekhawatiran berlapis: potensi penyebaran ideologi ekstremis lewat persona AI, kebocoran data sensitif percakapan, dampak kesehatan mental jangka panjang, dan yang paling disorot, risiko ketergantungan emosional pengguna. Aturan ini juga secara khusus melarang platform memicu emosi ekstrem pada anak di bawah umur dan menutup celah penggunaan data percakapan privat untuk melatih model AI.

"Penggunaan agen-agen ini membutuhkan tingkat pemahaman tertentu," kata Pan Helin, anggota komite ahli di bawah Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China. Pernyataan yang, kalau dibaca pelan, secara implisit mengakui bahwa mayoritas pengguna biasa belum tentu sadar ke mana arah interaksi semacam itu membawa mereka.

Regulasi ini tidak menyasar semua chatbot. Asisten kantor, platform pendidikan, layanan riset, chatbot penjawab pertanyaan biasa, semuanya tetap boleh beroperasi, selama tidak membangun ikatan emosional dengan pengguna. Batas yang ditarik Beijing bukan pada AI-nya, tapi pada dimensi "kemanusiaannya."

Pengawasan kini tidak berhenti di perangkat lunak. Dua asosiasi industri robotika China mulai mendesak pengetatan standar etika seiring melesatnya penjualan robot pendamping dan humanoid untuk pasar konsumen. Beijing sedang membangun kerangka regulasi yang menyentuh seluruh lapisan interaksi manusia-mesin, dari layar ponsel sampai robot yang berdiri di ruang tamu.

China tidak anti-AI. Justru sebaliknya: negara ini ingin memastikan AI berkembang sebagai infrastruktur produktivitas, bukan pengganti hubungan manusia. Persoalannya, garis antara keduanya kini sedang ditarik ulang oleh birokrat Beijing, bukan oleh pasar.