Dua puluh anak tidak pernah sampai ke rumah setelah kunjungan ke Air Terjun Sipi pada Kamis malam (17/7/2026). Bus yang mengangkut rombongan siswa King David Junior School dari Kampala itu terguling di Desa Chekwatit, Distrik Kapchorwa, Uganda timur, saat perjalanan pulang melewati jalan yang gelap dan berliku. Dua puluh nyawa anak-anak. Habis.
Kepolisian Uganda menyatakan pengemudi kehilangan kendali, kendaraan keluar dari badan jalan, menghantam batu besar di pinggir jalan, lalu terbalik. Foto-foto yang dirilis polisi memperlihatkan kondisi bus hancur parah dalam posisi miring di tepi jalan. Penyelidikan resmi masih berjalan untuk menentukan penyebab pasti, termasuk apakah ada faktor mekanis atau kelalaian pengemudi di balik insiden ini.
Dua puluh siswa tewas di lokasi. Satu orang dewasa ikut menjadi korban jiwa: pendiri King David Junior School sendiri, yang turut mendampingi murid-muridnya dalam perjalanan edukasi itu. Tiga pria dewasa lainnya beserta sejumlah anak mengalami luka-luka dan dievakuasi untuk perawatan intensif. Menteri Pemerintahan Daerah Balaam Barugahara Ateenyi bersama Menteri Negara Bidang Ketenagakerjaan Simon Mulongo langsung mendatangi korban luka di rumah sakit.
Sehari setelah kejadian, Menteri Pendidikan Chrysostom Muyingo mengumumkan pembekuan seluruh kegiatan perjalanan dan wisata sekolah, berlaku segera hingga pemberitahuan lebih lanjut. Kebijakan itu disampaikan melalui badan komunikasi resmi pemerintah, dimaksudkan agar otoritas terkait punya ruang mengevaluasi standar keselamatan transportasi sekolah sebelum kegiatan serupa kembali diizinkan.
Satu kebijakan reaktif, agaknya, tidak cukup untuk mengatasi akar masalah yang sudah kronis. Uganda mencatat 26.044 kecelakaan lalu lintas sepanjang 2025, naik dari 25.107 kasus di tahun sebelumnya. Dari total itu, 4.602 kecelakaan bersifat fatal dan merenggut lebih dari 5.300 nyawa. Kepolisian Uganda mengakui lebih dari 40 persen kecelakaan dipicu kelalaian pengemudi: ngebut, menyalip sembarangan, tidak menjaga jarak aman.
Deretan kecelakaan bus besar dalam setahun terakhir membuat statistik itu terasa bukan sekadar angka di atas kertas. Mei lalu, bus rombongan siswa Gulu Secondary School kecelakaan di Kigumba, menewaskan seorang kondektur dan melukai 17 pelajar. Di bulan yang sama, enam orang tewas dalam insiden serupa di Distrik Gomba, kali ini rombongan yang sedang menuju pesta pernikahan. Oktober tahun lalu, dua bus bertabrakan di jalan raya Kampala-Gulu, sedikitnya 46 orang tewas. Pola yang sama, korban yang terus bertambah.
Para ahli keselamatan lalu lintas menunjuk tiga faktor yang belum berhasil dibereskan: kondisi kendaraan tidak terawat, jalan minim penerangan di malam hari, dan penegakan aturan yang lembek di lapangan. Pemerintah Uganda tengah mempercepat penerapan Electronic Penalty System, sistem pengawasan berbasis kamera dan pengenal pelat nomor otomatis yang bisa mendeteksi pelanggaran secara langsung. Pertanyaannya, apakah teknologi itu cukup mengubah kebiasaan pengemudi yang sudah mengakar? Jawaban sesungguhnya baru terlihat di data kecelakaan tahun depan, kalau data itu bisa dipercaya.