SABTU, 3 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Bulog Siap Ekspor Beras, Tunggu Perintah Resmi Pra...

Ekonomi

Bulog Siap Ekspor Beras, Tunggu Perintah Resmi Prabowo

Di tengah krisis pangan global yang kian membayangi, Presiden Prabowo Subianto membuka peluang ekspor beras Indonesia sambil menegaskan ketahanan pangan sebagai fondasi negara. Bulog pun menyatakan siap bergerak begitu perintah turun.

Dirut Bulog siap ekspor beras sesuai perintah Presiden - ANTARA News Kalimantan Selatan

Sejumlah negara kini mengetuk pintu Jakarta, minta izin beli beras Indonesia. Bukan negara sembarangan, eh, bukan negara biasa, melainkan mereka yang selama ini merasa lebih dari cukup soal pangan. Situasinya berubah setelah India memutuskan menutup keran ekspor beras, jagung, dan gandum demi mengamankan perut warganya sendiri. Bangladesh menyusul. Kini negara-negara itu mencari alternatif, dan Indonesia ada di radar mereka.

Presiden Prabowo Subianto membeberkan dinamika ini dalam dua agenda berbeda di Jawa Timur akhir pekan lalu. Di Kabupaten Tuban, Sabtu (16/5), ia bicara panjang soal fondasi bernegara: tidak ada satu pun bangsa yang bisa bertahan tanpa produksi pangan yang lancar dan berkesinambungan. Bukan retorika kosong. Prabowo menarik pelajaran dari pengalamannya sebagai komandan pasukan tempur, saat kalkulasi operasi militer ditentukan oleh stok beras. "Kalau berasnya untuk 5 hari, ya 5 hari kita operasi," ujarnya. Logika yang sama berlaku di skala negara.

Yang lebih mengejutkan terjadi di Kabupaten Nganjuk, pada acara peluncuran 1.061 gerai Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Prabowo tiba-tiba memanggil Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani yang berdiri di bawah panggung. Pesannya singkat tapi tegas. "Jangan ngetok, tapi jangan jual terlalu murah," kata Presiden. Rizal menjawab "siap", dan satu babak baru wacana ekspor beras Indonesia pun dimulai.

Konfirmasi dari Bulog datang Senin. "Kalau kami siap. Begitu ada perintah, kami siap akan melaksanakan perintah tersebut," kata Rizal kepada ANTARA di Jakarta. Eksekusi, katanya, akan segera ditindaklanjuti begitu arahan resmi turun. Yang belum jelas: berapa volume beras yang disiapkan untuk ekspor. Negosiasi antarnegara berlangsung langsung di level kepala negara, bukan di meja Bulog.

Prabowo memang tidak menyebut nama negara peminta secara eksplisit. Ada petunjuk, tapi tipis. Negara-negara di kawasan terdekat Indonesia disebut sudah menjalin komunikasi, sebagian masih ragu-ragu karena belum menyerah mencari pasokan dari sumber lain. Agaknya pilihan itu tidak akan terlalu lama bertahan, opsi mereka semakin sempit.

Satu hal yang ditekankan berulang kali: petani tidak boleh jadi korban. "Saya bilang beri. Kalau mereka butuh kita harus bantu. Kita jual kepada mereka, tapi harganya ya yang oke lah. Jangan petani kita korban. Harga harus minimal untung dikit," ujar Prabowo. Ekspor yang terburu-buru dengan harga banting justru bisa menguras cadangan nasional tanpa manfaat berarti bagi jutaan petani yang memanen padi.

Cadangan beras nasional sedang dalam posisi yang relatif nyaman sekarang. Itu modal utama keberanian membuka wacana ekspor ini. Tapi Prabowo tidak lupa mengingatkan: krisis pangan global bisa berlangsung lama. "Ingat, krisis bisa lama ini. Yang utama kita amankan rakyat kita dulu," tegasnya. Prioritas tetap mengamankan kebutuhan dalam negeri, ekspor hanya untuk surplus yang benar-benar bisa dilepas.

Bagi pelaku pasar, ini sinyal yang layak dicermati, terutama emiten dan koperasi yang bergerak di rantai distribusi pangan. Kalau rencana ini benar-benar bergulir, ada potensi pergerakan harga gabah di tingkat petani, sekaligus pertanyaan yang belum terjawab: apakah infrastruktur logistik Bulog cukup tangguh untuk menangani volume ekspor skala negara?