Cum dividen BRIS jatuh pada 13 Mei 2026. Bagi yang belum tandai kalender, sudah terlambat sedikit.
PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) resmi menetapkan dividen tunai Rp1,51 triliun dalam RUPST Tahun Buku 2025, yang digelar 5 Mei lalu di BSI Tower, Jakarta. Total itu setara 20% dari laba bersih perseroan, naik dari rasio 15% yang berlaku tahun sebelumnya, eh, maaf: naik dari rasio 15% yang berlaku di 2024, ketika dividen yang dibagikan sekitar Rp1,05 triliun. Dalam angka per lembar, pemegang saham akan mengantongi Rp32,81 per saham, melonjak 44% dibanding dividen tahun lalu yang sebesar Rp22,78 per saham.
Bukan angka kecil.
Laba bersih BSI sepanjang 2025 tercatat Rp7,57 triliun. Delapan puluh persennya, sekitar Rp6,05 triliun, masuk sebagai laba ditahan untuk memperkuat modal dan mendanai ekspansi. Strategi bagi-bagi tapi tetap tumbuh ini agaknya yang membuat manajemen berani mengerek dividend payout ratio sekaligus tidak membuat investor khawatir soal kesehatan neraca.
Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo menyebut perseroan terus tumbuh, terlebih setelah mengantongi dual licence sebagai bank syariah sekaligus bullion bank. Ia juga menyoroti pertambahan basis nasabah: sepanjang 2025, lebih dari 2 juta orang baru masuk, sehingga total nasabah kini menyentuh kisaran 23 juta.
Satu catatan yang sempat muncul di forum pemegang saham: beberapa komponen beban seperti Cost to Income Ratio dan BOPO dinilai masih menekan optimalisasi laba. Manajemen diminta memperketat efisiensi di periode berikutnya. Wajar saja. Angka laba yang moncer tidak selalu berarti mesin operasional sudah berjalan mulus sepenuhnya.
Bagi investor yang mengincar dividen ini, catat tanggalnya. Cum dividen di pasar reguler dan negosiasi: 13 Mei 2026. Ex dividen mulai 18 Mei 2026. Recording date ditetapkan 19 Mei 2026, dan pembayaran dijadwalkan 5 Juni 2026. Bagi pemegang saham yang sahamnya tercatat di penitipan kolektif KSEI, pembayaran dilakukan lewat pemindahbukuan ke RDN masing-masing. Pemegang saham di luar penitipan kolektif akan menerima transfer langsung ke rekening terdaftar.
Di luar soal dividen, RUPST juga merombak susunan dewan komisaris. Wakil Ketua Umum MUI KH Muhammad Cholil Nafis masuk sebagai Komisaris Independen, menggantikan Muhammad Syafii Antonio. Bersamaan dengan itu, eks Direktur Utama BNI Sigit Pramono ditunjuk sebagai komisaris baru, menggantikan Firmansyah. Keduanya masih menunggu fit and proper test dari OJK sebelum efektif menjabat.
Penunjukan Cholil, yang dikenal luas di lingkaran ulama nasional, bisa dibaca sebagai upaya BSI mempertegas wajah syariah-nya di mata publik. Sekaligus memperkuat jalur komunikasi dengan ekosistem ekonomi Islam yang selama ini jadi ceruk pertumbuhan utama perseroan.
Dengan basis nasabah yang terus melebar dan struktur permodalan yang semakin tebal, pertanyaannya kini sederhana: apakah efisiensi operasional bisa menyusul kecepatan pertumbuhan topline-nya?