SENIN, 12 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  BSF India Kaji Buaya dan Ular Berbisa sebagai Penj...

Internasional

BSF India Kaji Buaya dan Ular Berbisa sebagai Penjaga Perbatasan dengan Bangladesh

Pasukan Keamanan Perbatasan India mempertimbangkan penggunaan buaya dan ular berbisa sebagai "hambatan biologis" di sepanjang perbatasan dengan Bangladesh, khususnya di kawasan Sundarbans yang tidak bisa dipagari secara fisik.

Buaya dan ular berbisa sebagai penjaga perbatasan. Kedengarannya seperti plot film aksi kelas B, tapi ini proposal nyata yang sedang dikaji serius oleh Pasukan Keamanan Perbatasan India, atau BSF.

Perwira senior BSF Manoj Barnwal, Wakil Inspektur Jenderal yang berbasis di Kolkata, mengonfirmasi kepada AFP bahwa wacana pengerahan reptil ini sudah dibahas dalam pertemuan resmi bersama Kementerian Dalam Negeri pada Februari lalu. Sebuah catatan internal bertanggal 26 Maret 2026 bahkan menunjukkan markas besar BSF secara formal meminta unit-unit lapangan untuk menilai kelayakan operasional rencana ini.

"Kami telah diminta untuk menjajaki kelayakan penempatan reptil seperti ular atau buaya di celah sungai yang rentan," kata Barnwal. Rencana ini, ia jelaskan, berfokus pada zona rawan banjir sepanjang area yang tidak bisa dipagari secara konvensional.

Perlu dipahami skalanya dulu. Perbatasan India-Bangladesh membentang lebih dari 4.000 kilometer, sebagian besar melewati wilayah delta tempat sungai-sungai berhulu di Himalaya mengalir menuju laut. Di kawasan ini juga terbentang Sundarbans, hutan bakau terbesar di dunia, yang menjadi titik perpotongan batas kedua negara. India sudah berinvestasi besar untuk memagari perbatasannya, tapi sekitar 20 persen wilayah tetap terbuka. Dari total 853 kilometer yang belum berpagar, sekitar 177 kilometer dinyatakan tidak layak untuk konstruksi permanen karena jalur air yang terus bergeser dan risiko banjir yang ekstrem.

Di sinilah ide "hambatan biologis" itu muncul. Ibarat memanfaatkan apa yang sudah ada di alam untuk mengisi kekosongan yang tidak bisa diisi beton dan kawat berduri.

Layak atau tidak? Para petugas lapangan sudah mengidentifikasi sejumlah hambatan besar. Predator mematikan yang dikonsentrasikan di kawasan perbatasan bisa mengancam warga desa setempat, bukan hanya mereka yang mencoba menyeberang secara ilegal. Lalu ada soal kendali: bagaimana mengontrol pergerakan hewan buas dalam sistem sungai terbuka yang dinamis? Pakar satwa liar memperingatkan bahwa konsentrasi predator secara artifisial bisa merusak keseimbangan ekosistem Sundarbans yang sudah rapuh.

Bukan main rumitnya.

Proposal ini muncul saat ketegangan diplomatik antara New Delhi dan Dhaka belum sepenuhnya cair. Hubungan keduanya amblas pascakrisis 2024, ketika revolusi di Bangladesh mengakhiri pemerintahan Perdana Menteri Sheikh Hasina yang kemudian melarikan diri ke India. Pemerintah Narendra Modi selama ini memang dikenal keras soal imigrasi, khususnya terkait migran dari Bangladesh.

Pada 8 April, hari yang sama ketika BSF mengumumkan wacana ini secara publik, Menteri Luar Negeri Bangladesh Khalilur Rahman tiba di New Delhi dalam kunjungan tingkat tinggi pertamanya sejak 2024 untuk mencoba membangun kembali hubungan bilateral yang sempat membeku. Entah kebetulan atau tidak, momentumnya terasa ironis: satu pihak membahas reptil berbisa sebagai penghalang, pihak lain datang membawa tangan terbuka.

Agaknya masih jauh dari tahap implementasi. Tapi fakta bahwa diskusi ini sudah naik ke level Dirjen BSF Praveen Kumar sejak Februari, dan kini ada memo resmi per Maret, menunjukkan ini bukan sekadar obrolan internal tanpa bobot. India, setidaknya, sedang benar-benar mencari alternatif di luar pagar besi dan kawat berduri.