KAMIS, 8 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Bryan Johnson, Si 'Penunda Maut', Kini Didiagnosis...

Internasional

Bryan Johnson, Si 'Penunda Maut', Kini Didiagnosis Autoimun Gastritis

Miliarder biohacker Bryan Johnson mengumumkan diagnosis autoimun gastritis, penyakit yang menyerang lapisan lambungnya sendiri, sebuah ironi pahit bagi pria yang menghabiskan jutaan dolar demi mengalahkan penuaan.

Don't Die' biohacker Bryan Johnson opens up about diagnosis: 'Would be much worse...had I not taken care of my body' | The Independent

Bryan Johnson percaya ia bisa mengalahkan kematian. Kenyataannya, sistem kekebalan tubuhnya justru sedang menggerogoti lambungnya dari dalam.

Miliarder teknologi berusia 48 tahun yang dikenal sebagai wajah paling serius dari gerakan biohacking global itu mengumumkan pada 30 Juni 2026 bahwa ia didiagnosis menderita autoimun gastritis (AIG), penyakit autoimun kronis yang hingga kini belum ada obatnya. "Perut saya memakan dirinya sendiri," tulis Johnson di media sosial, kalimat yang terasa seperti pengakuan pahit dari seseorang yang selama ini mengklaim bisa memprogram ulang tubuhnya seperti software.

Autoimun gastritis terjadi ketika sistem imun salah sasaran, menyerang sel-sel sehat pada lapisan dinding lambung. Bagi orang kebanyakan, diagnosis seperti ini sudah berat. Bagi Johnson, ini tamparan langsung ke narasi besarnya.

Johnson dikenal luas lewat program biohacking bernama Blueprint, protokol kesehatan ekstrem yang ia jalani dengan ketelitian nyaris obsesif: pola makan ketat, olahraga terstruktur, sederet suplemen dan prosedur medis yang menguras kantong jutaan dolar per tahun. Ia rajin mendokumentasikan segalanya di media sosial, dan klaimnya tentang "penuaan terbalik" sempat viral, bahwa secara biologis tubuhnya lebih muda dari usianya. Jutaan orang percaya.

Tapi penyakit ini, menurut Johnson sendiri, agaknya sudah berkembang jauh sebelum Blueprint ada. Ia menduga kondisinya berakar dari gaya hidup dekade lalu, ketika ia masih jauh dari kata sehat. "Sebagai seorang anak, saya makan sereal manis, minum soda manis, dan menyantap makanan cepat saji," ungkapnya, dikutip dari The Independent. Ia sempat mencoba hidup sehat di awal usia 20-an, tapi tekanan membangun bisnis dan mengurus tiga anak kecil membuatnya ambruk. Berat badannya naik sekitar 18 kilogram, lalu depresi kronis menyusul.

Periode kelam itulah, ia percaya, yang memicu sistem imunnya berbalik arah. Autoimun yang kini bersarang di lambungnya diduga juga sudah menggerus kelenjar tiroidnya. Kerusakan yang terakumulasi diam-diam, bertahun-tahun, sebelum akhirnya terdeteksi. Bak api dalam sekam.

Ironi di sini tidak bisa diabaikan. Johnson menghabiskan lebih dari dua juta dolar per tahun untuk mengoptimalkan tubuhnya. Tapi ia tidak tahu bahwa kerusakannya sendiri sudah berjalan jauh sebelum semua itu dimulai. Kalau data biologinya bisa dipercaya, ini cermin retak dari narasi biohacking yang selama ini ia jual: ada luka lama yang tidak bisa diprogram ulang, seberapapun canggih protokolnya.

Pertanyaannya, bagaimana pasar merespons? Blueprint bukan sekadar gaya hidup pribadi Johnson. Ia sudah menjelma merek, produk, aspirasi. Diagnosis ini tidak serta-merta mendiskreditkan programnya, setidaknya itu klaim manajemen dan komunitas pendukungnya. Tapi biologi manusia, seperti yang Johnson sendiri kini rasakan, tidak selalu tunduk pada spreadsheet.