JUMAT, 9 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Bryan Johnson, Biohacker Anti-Penuaan yang Diam-di...

Internasional

Bryan Johnson, Biohacker Anti-Penuaan yang Diam-diam Idap Autoimun

Selama 11 tahun Bryan Johnson berjuang melawan kadar ferritin rendah tanpa tahu penyebabnya. Diagnosis gastritis autoimun akhirnya menjawab teka-teki yang bahkan dokter-dokternya pun lama melewatkannya.

Profil Bryan Johnson yang Kena Autoimun, Dikenal Menolak Tua

Sebelas tahun bukan waktu yang pendek. Selama itu, Bryan Johnson menjalani rutinitas kesehatan paling ketat yang pernah ada di muka bumi, menghabiskan sekitar 2 juta dolar AS per tahun demi menghindari penuaan, tapi tidak bisa menjawab satu pertanyaan sederhana: kenapa kadar ferritinnya tidak pernah normal?

Jawaban itu akhirnya datang juga. Lewat akun X pribadinya pada 8 Juli 2026, Johnson mengungkapkan bahwa dirinya didiagnosis mengidap Autoimmune Gastritis (AIG), kondisi di mana sistem imun tubuh menyerang sel parietal dinding lambung sendiri. Akibatnya, produksi asam lambung terganggu, penyerapan vitamin B12 terhambat, dan zat besi dari makanan maupun suplemen oral tidak bisa masuk ke aliran darah sebagaimana mestinya.

Sepanjang satu dekade lebih itu, ferritin Johnson rata-rata hanya 38 ng/mL, angka yang ia akui jauh di bawah target kesehatannya sendiri. Frustrasi berlapis. Hemoglobin dan hematokritnya selalu normal, sehingga sebagian besar dokter tidak menganggap ini masalah serius. Ia tidak masuk kategori anemia secara klinis, padahal cadangan zat besinya jelas-jelas terkuras.

Sudah dihajar dari segala arah. Ia kembali makan daging meski lama menjalani pola makan berbasis tumbuhan. Nyaris semua jenis suplemen zat besi oral dicoba, dari berbagai dosis, berbagai waktu konsumsi. Hasilnya? Nol. Tubuhnya seperti menolak menyerap apapun yang masuk lewat jalur pencernaan.

Titik balik datang setelah Johnson merombak tim medis yang menanganinya. Evaluasi menyeluruh akhirnya membongkar biang keroknya: AIG. Karena saluran cerna tidak lagi bisa diandalkan, terapi dialihkan ke infus zat besi intravena langsung ke pembuluh darah. Kadar ferritinnya pun akhirnya berhasil ditarik ke kisaran sehat. Tidak main-main, sebelas tahun untuk sampai ke sini.

Ironis memang. Pria yang menjadikan tubuhnya laboratorium hidup demi "Don't Die" ini ternyata membawa kondisi autoimun yang diam-diam menggerogoti dari dalam, tanpa terdeteksi bertahun-tahun.

Johnson bukan nama asing di dunia teknologi jauh sebelum Project Blueprint membuatnya viral. Ia mendirikan Braintree pada 2007, perusahaan pemrosesan pembayaran digital yang kemudian mengakuisisi Venmo pada 2012. Setahun berselang, PayPal mengakuisisi keduanya senilai sekitar 800 juta dolar AS. Dari situ, Johnson mengantongi modal yang ia alokasikan ke OS Fund, perusahaan ventura untuk startup sains mutakhir, dan Kernel, pengembang perangkat pemindai aktivitas otak.

Nama besarnya di kalangan publik luas datang dari proyek yang agaknya tidak akan pernah ada duanya: menjadikan diri sendiri subjek penelitian anti-penuaan ekstrem. Tidur terjadwal ketat, puluhan suplemen harian, pemeriksaan laboratorium rutin, olahraga tanpa jeda, semuanya dirancang untuk menurunkan usia biologis organ-organnya hingga setara pria 18 tahun. Pertanyaannya, berapa lama protokol seperti ini bisa mengendalikan biologi yang justru bekerja di luar skenario?

Tidak semua langkahnya lepas dari kritik. Terapi transfusi plasma dari donor muda, termasuk dari putranya sendiri, akhirnya ia hentikan karena tidak terbukti memberi manfaat nyata. FDA pun pernah mengingatkan bahwa terapi semacam itu berpotensi menimbulkan risiko yang belum sepenuhnya dipahami. Sejumlah ilmuwan juga menilai klaim anti-penuaan Johnson lebih banyak berdiri di atas keyakinan pribadi ketimbang bukti klinis yang solid.

Diagnosis AIG ini, paradoksnya, justru bisa jadi momen paling jujur dari seluruh perjalanan Johnson. Selama ini ia menjual narasi bahwa teknologi dan disiplin bisa mengalahkan biologi. Kenyataannya, sistem imunnya sendiri bekerja di luar kendali protokol Blueprint manapun. Kalau data ini bisa dipercaya, cermin retak itu sudah retak sejak lama, hanya saja tidak ada yang mau melihat.