Tren penurunan harga pangan secara nasional mulai terlihat, tapi jangan keburu senang. Per 3 Juli 2026, Badan Pusat Statistik mencatat 29 provinsi berhasil membukukan penurunan Indeks Perkembangan Harga, satu provinsi relatif stagnan, dan delapan provinsi masih berjibaku dengan kenaikan IPH yang dipicu dua komoditas lama: cabai merah dan beras.
Delapan provinsi yang belum berhasil meredam kenaikan harga itu tersebar dari ujung barat hingga timur Indonesia, meliputi Papua Tengah, Papua Barat, Papua Barat Daya, Papua Pegunungan, Papua Selatan, Maluku, Aceh, DKI Jakarta, dan Sumatera Utara. Agaknya bukan kebetulan: wilayah-wilayah ini umumnya bergantung tinggi pada pasokan dari luar daerah.
Ateng Hartono, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, memaparkan bahwa kenaikan IPH tertinggi di luar Jawa dan Sumatera terjadi di Kabupaten Deiyai dengan lonjakan 8,13 persen, jauh melampaui daerah lain. Di belakangnya ada Kabupaten Mahakam Ulu sebesar 4,35 persen dan Kabupaten Tambrauw 2,81 persen. Beda skala. Untuk Sumatera, Kabupaten Padang Lawas memimpin dengan kenaikan IPH 2,60 persen, diikuti Tapanuli Selatan 2,42 persen dan Gayo Lues 2,31 persen. Komoditas penyumbang di seluruh wilayah itu konsisten: cabai rawit, cabai merah, dan beras.
Pulau Jawa? Relatif jinak. Kabupaten Tangerang mencatat kenaikan IPH tertinggi se-Jawa di angka 0,57 persen, dengan penyumbang utama tahu mentah, mie kering instan, dan udang basah. Kalau dibandingkan dengan Deiyai yang meledak lebih dari 8 persen, memang beda planet.
Ateng mengingatkan dua komoditas yang belum boleh lengah. "Beras, minyak goreng masih perlu diwaspadai kenaikan IPH-nya," tegasnya dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi yang disiarkan langsung melalui kanal YouTube Kemendagri, Senin (6/7/2026).
Secara makro, inflasi nasional year-on-year Juni 2026 tercatat 3,34 persen, dengan inflasi year-to-date menyentuh 1,79 persen. Tekanan bukan cuma dari pangan. Kelompok transportasi ikut menyumbang akibat penyesuaian harga BBM nonsubsidi, begitu pula kelompok perawatan pribadi yang terdampak naiknya harga emas dunia. Pemerintah tetap memilih sektor pangan sebagai medan intervensi utama, karena di situlah ruang gerak daerah paling nyata.
Satu angka yang patut dicermati: bawang putih tergerus inflasi cukup tajam, 6,88 persen pada Juni 2026, dipicu meningkatnya biaya impor seiring penguatan dolar AS terhadap rupiah. Sinyal bahwa tekanan eksternal ikut memperumit stabilisasi dari dalam negeri. Adapun cabai merah, bawang merah, daging ayam ras, dan telur ayam ras sudah mulai menunjukkan tren yang membaik.
Sekretaris Jenderal Kemendagri Tomsi Tohir, yang memimpin rapat koordinasi hybrid dari Gedung Sasana Bhakti Praja Jakarta, mengingatkan pemda agar tidak terlena. "Yang kita lakukan sehari-hari adalah fokus makanan, minuman, dan tembakau. Tentunya kita tidak berpuas diri, tetap kita harus berusaha sekeras-kerasnya agar makanan, minuman, dan tembakau ini tidak terjadi kenaikan-kenaikan yang signifikan," kata Tomsi. Ia juga mendorong daerah yang inflasinya masih di atas rata-rata nasional untuk segera berkoordinasi dengan BPS setempat guna mengidentifikasi akar masalah dan merancang intervensi yang lebih tepat sasaran.
Pertanyaannya sekarang: seberapa lama tren positif di 29 provinsi bisa dipertahankan ketika tekanan dari sisi pasokan beras dan volatilitas nilai tukar belum sepenuhnya mereda?