SELASA, 6 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Bos TPIA Borong Saham 7 Kali saat Harga Terjun 67%

Finansial

Bos TPIA Borong Saham 7 Kali saat Harga Terjun 67%

Direktur TPIA Raymond serok 625 ribu saham di tengah tekanan brutal yang sudah menggerus harga hampir 70% sejak awal tahun, sementara manajemen angkat bicara soal penjaminan 3,67 miliar saham oleh BRPT dan Prajogo Pangestu.

Oil Shock and War Fears Drag JCI Down 2.65% on Monday

Tujuh kali transaksi pembelian dalam satu hari. Itulah yang dilakukan Raymond, Direktur PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), pada 19 Mei 2026, ketika saham perusahaan sedang dalam kondisi yang agaknya membuat sebagian besar investor justru berlomba keluar.

Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Raymond mengeksekusi pembelian dengan harga bervariasi: 50 ribu saham di Rp4.350, lalu 225 ribu saham di Rp4.300, kemudian 100 ribu saham masing-masing di level Rp4.380 dan Rp4.580, ditambah 50 ribu saham di Rp4.500, 25 ribu saham di Rp4.520, dan 75 ribu saham di Rp4.400. Total: 625 ribu lembar. Kepemilikannya naik dari 3,3 juta menjadi 3,925 juta saham setelah seluruh transaksi rampung.

Langkah ini bisa dibaca sebagai sinyal keyakinan manajemen terhadap nilai jangka panjang perusahaan, klaim yang masih perlu dibuktikan pasar. Sebab tekanan yang menghantam TPIA bukan tekanan biasa. Pada sesi perdagangan yang sama, saham ini anjlok 14,66 persen ke Rp2.270. Dalam sepekan, TPIA sudah tergerus 47,21 persen. Sebulan? Minus 62,63 persen. Tiga bulan minus 66,25 persen, dan secara year-to-date emiten petrokimia ini sudah amblas 67,57 persen. Secara tahunan, koreksinya menyentuh 76,29 persen.

Salah satu pemicu tekanan jual paling keras: keluarnya TPIA dari indeks MSCI. Bak gayung bersambut dengan sentimen negatif yang sudah lebih dulu mengendap, keputusan itu memicu potensi outflow dari dana-dana global yang wajib mengikuti komposisi indeks tersebut. Ketika sebuah saham dicoret dari MSCI, fund manager institusional seringkali tidak punya pilihan selain melepas posisi, terlepas dari fundamental emiten. ARB berlanjut selama beberapa sesi berturut-turut. Likuiditas menipis.

Di atas semua itu, manajemen TPIA harus menghadapi pertanyaan yang beredar di media sosial soal penjaminan saham oleh pemegang saham utama. BEI pun meminta klarifikasi resmi.

Jawabannya keluar. PT Barito Pacific Tbk (BRPT) tercatat telah menjaminkan 2,175 miliar saham TPIA, rinciannya 2 miliar saham ke PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) sejak 21 September 2021 dan 175 juta saham ke PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) sejak 24 Desember 2024. Prajogo Pangestu secara pribadi turut menjaminkan 1,5 miliar saham TPIA ke HSBC sejak 17 November 2023. Total saham yang tergadai: 3,675 miliar lembar, setara 4,24 persen dari seluruh saham yang ditempatkan dan disetor penuh.

"Jumlah saham yang dijaminkan tidak berdampak material terhadap struktur pengendalian dan kepemilikan perseroan," tegas Erri Dewi Riani, General Manager of Legal & Corporate Secretary TPIA. Fasilitas kredit ini, ia jelaskan, bukan margin facility, melainkan pinjaman perbankan biasa dengan mekanisme top-up jaminan apabila rasio nilai agunan turun di bawah ambang yang disepakati. Risiko eksekusi saham, kalau data ini bisa dipercaya, hanya relevan jika debitur benar-benar gagal bayar.

Satu poin yang sedikit melegakan: fasilitas pinjaman BRPT dari Bangkok Bank disebut sudah dilunasi. Artinya, potensi eksekusi jaminan kini hanya relevan jika debitur gagal bayar ke BNI, BTN, atau HSBC.

Pertanyaannya, berapa lama tekanan ini bertahan? Bagi investor ritel yang nyangkut di TPIA, dua hal ini agaknya tetap menggantung: apakah aksi beli Raymond sinyal bahwa harga sudah oversold jauh di bawah nilai wajar, ataukah sekadar upaya menjaga sentimen saat badai belum jelas kapan berlalu? Dalam 10 tahun terakhir, TPIA masih mencatat kenaikan hampir 955,81 persen. Tapi bagi yang masuk di harga puncak tahun lalu, angka historis itu terasa jauh sekali.