Angka yang sulit diabaikan: US$131,23 miliar, atau sekitar Rp2.327 triliun. Itulah nilai kontrak yang baru saja diraih Boeing Co. dari Departemen Perang Amerika Serikat untuk program F-15 Eagle Crest, skema pengadaan jet tempur yang kali ini melibatkan tujuh negara sekaligus, termasuk Indonesia.
Kontrak bernomor FA8634-26-D-B001 ini dikelola oleh Pusat Manajemen Siklus Hidup Angkatan Udara AS di Pangkalan Wright-Patterson, Ohio. Sifatnya indefinite delivery/indefinite quantity, artinya volume pengiriman bisa menyesuaikan kebutuhan selama periode pemesanan yang berlaku hingga 24 Agustus 2031, dengan opsi perpanjangan hingga 2036. Produksi dan perakitan dipusatkan di fasilitas Boeing di St. Louis, Missouri, dengan target penyelesaian keseluruhan Agustus 2037.
Selain Indonesia, nama-nama yang masuk jalur Foreign Military Sales dalam kontrak ini adalah Jepang, Israel, Arab Saudi, Korea Selatan, Singapura, dan Polandia. Daftar yang agaknya mencerminkan peta aliansi strategis Washington di dua kawasan sekaligus: Indo-Pasifik dan Eropa Timur.
Lingkup kontrak tidak sekadar jual-beli pesawat. Boeing diwajibkan menangani produksi, integrasi sistem, modernisasi, peningkatan, perbaikan, pemeliharaan, hingga pembentukan kemampuan pemeliharaan depot organik. Ini paket jangka panjang yang mengikat Boeing sebagai mitra siklus hidup armada F-15, bukan sekadar pabrikan.
Di sisi domestik, Angkatan Udara AS tengah agresif memperluas armada varian terbarunya, F-15EX Eagle II. Rencana pengadaan mencapai 149 unit hingga tahun anggaran 2031. Anggaran pertahanan 2026 dan permintaan tahun 2027 saja mencakup pembelian 24 unit senilai US$2,66 miliar. Skala ekspansi ini, menurut sejumlah kalangan pertahanan, telah menggeser peran F-15EX dari sekadar pengganti F-15C/D lama menjadi tulang punggung baru pasukan penerbangan taktis.
Bukan pesawat sembarangan. Kapasitas muatan maksimum F-15EX mencapai 13.300 kilogram, dan pesawat ini sanggup membawa hingga 12 rudal udara-ke-udara AIM-120 AMRAAM sekaligus. Dalam skema tempur AS, F-15EX diposisikan sebagai pelengkap bagi jet siluman F-35A dan F-47, bukan pesaingnya.
Salah satu pangkalan yang diprioritaskan menerima F-15EX adalah Kadena di Jepang, dijadwalkan kedatangan 36 unit mulai 2027-2028. Penempatan ini untuk mengisi kekosongan setelah skuadron F-15C/D Kadena dipensiunkan awal tahun lalu. Pangkalan Seymour Johnson di Carolina Utara juga masuk daftar penerima lewat anggaran fiskal 2027, menggantikan armada F-15E Strike Eagle yang ada.
Sekretaris Angkatan Udara Troy Meink secara eksplisit menjamin kelanjutan misi Seymour Johnson dalam suratnya kepada Senator Ted Budd. "Meskipun jadwal pengiriman seluruh armada Angkatan Udara bergantung pada produksi pesawat dan apropriasi kongres, Angkatan Udara tidak memiliki rencana untuk mengurangi misi F-15 Seymour Johnson tanpa adanya pesawat pengganti," tulis Meink. Wajar saja, mengingat intensitas operasional Seymour Johnson yang tidak main-main, termasuk pengerahan rutin ke Timur Tengah dan Pasifik.
Pesawat pertama dari produksi Lot 3, nomor ekor 22-0022, sudah terbang perdana dari fasilitas St. Louis pada 15 Agustus 2026. Terbang. Fase produksi berikutnya yang lebih masif pun resmi dimulai.
Mantan eksekutif Raytheon Reuben F. Johnson membingkai situasi ini dengan lugas. "USAF selama bertahun-tahun telah membeli sekitar 800 F-15 tetapi pada akhirnya hanya memperoleh 189 F-22 sebagai penggantinya. Sesuatu harus mengisi celah di antara kedua angka tersebut dan bertindak sebagai pelengkap terbaik bagi Raptor. F-15EX menjalankan tugas itu dengan sangat baik," katanya.
Bagi Indonesia, tercantumnya nama dalam kontrak FMS ini menegaskan bahwa proses akuisisi F-15 berjalan, meski detail jumlah unit dan nilai spesifik untuk Jakarta belum dirinci terpisah oleh Pentagon. Kalau data ini bisa dipercaya, keputusan ini menempatkan TNI AU dalam jalur modernisasi yang sama dengan Jepang dan Korea Selatan, dua kekuatan udara terbesar di kawasan.