KAMIS, 24 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Blokade Selat Hormuz Guncang Pasokan Asam Sulfat,...

Ekonomi

Blokade Selat Hormuz Guncang Pasokan Asam Sulfat, Indonesia Ikut Kena Getah

Gangguan pelayaran di Selat Hormuz sejak akhir Februari memicu kenaikan tajam harga asam sulfat global. Indonesia dan Chile disebut sebagai negara yang paling rentan terdampak pembatasan ekspor dari China.

Pasokan global asam sulfat terganggu akibat blokade Selat Hormuz

Sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari lalu, Selat Hormuz nyaris lumpuh. Jalur itu biasanya mengalirkan sebagian besar minyak dan gas dari kawasan Teluk Persia ke pasar dunia. Kapal-kapal kini antre menunggu, atau memutar haluan.

Dampaknya mulai menjalar ke komoditas yang mungkin tidak banyak orang pikirkan: asam sulfat.

Bukan komoditas seksi seperti minyak atau emas, memang. Tapi peranannya tidak bisa diremehkan. Asam sulfat dipakai untuk memproduksi pupuk fosfat, sekaligus melarutkan tembaga dan logam lainnya dalam proses pertambangan. Sebagian besar pasokannya berasal dari kilang minyak di kawasan Teluk Persia sebagai produk sampingan pengolahan minyak mentah. Ketika kilang-kilang itu terganggu, pasokan asam sulfat ikut terseok. Harga pun ikut melonjak. Bukan sedikit.

Freda Gordon, kepala Acuity Commodities, mengatakan kepada Wall Street Journal bahwa ancaman terhadap pasar pupuk mendorong China, produsen asam sulfat terbesar di dunia, untuk membatasi ekspor mulai Mei 2026. Langkah itu, kata Gordon, justru memperparah kekurangan yang sudah terjadi dan mendorong harga semakin tinggi. Bloomberg sebelumnya melaporkan pada April bahwa Beijing tengah mempertimbangkan larangan ekspor tersebut, sebagai respons atas gangguan rantai pasok di Timur Tengah.

Dua nama yang disebut paling rentan: Chile dan Indonesia.

Sarah Marlow, pakar pasar pupuk dari Argus, menyebut keduanya sebagai negara yang paling terekspos terhadap pembatasan ekspor asam sulfat China. Chile bergantung pada asam sulfat untuk industri tembaga. Indonesia membutuhkannya untuk produksi pupuk dan pertambangan nikel yang tengah agresif berkembang. Kalau pasokan tersendat dan harga terus merangkak, biaya produksi di sektor-sektor itu ikut tertekan. Cukup untuk bikin kalkulasi bisnis berantakan.

Negara-negara Afrika pun tidak luput. Ketergantungan mereka pada pupuk impor membuat krisis ini berpotensi berubah jadi ancaman ketahanan pangan, bukan sekadar soal harga komoditas.

Eskalasi militer di Iran sudah berlangsung sejak akhir Februari. Dunia, agaknya, terlambat memperhitungkan dampak lanjutannya ke rantai pasok non-energi. Asam sulfat hanyalah salah satu simpul yang mulai putus. Pertanyaannya, simpul mana berikutnya?