Yield obligasi AS tenor 30 tahun menyentuh level tertinggi sejak Juli 2007. Itu saja sudah cukup untuk bikin seluruh aset berisiko gemetar, dan Bitcoin tidak terkecuali.
Pada Rabu (20/5/2026) pagi, harga Bitcoin terkoreksi 0,23% ke US$ 76.846 per koin, setara Rp 1,36 miliar berdasarkan kurs Rp 17.768. Kapitalisasi pasar kripto global ikut menyusut 0,54% menjadi US$ 2,55 triliun, berdasarkan data CoinMarketCap pukul 06.45 WIB. Bukan sekadar profit-taking biasa.
Tekanan datang dari tiga arah sekaligus: lonjakan yield Treasury tenor panjang memukul selera investor terhadap aset risk-on, harga minyak yang merangkak naik mempertebal kekhawatiran inflasi, ditambah pernyataan Presiden Donald Trump yang memperingatkan negara-negara Teluk agar bersiap mendukung serangan besar terhadap Iran jika negosiasi nuklir gagal. Belum jadi kebijakan konkret, tapi pasar tidak butuh kepastian untuk bereaksi.
Altcoin lebih parah dihajar. Ethereum amblas 0,84% ke US$ 2.113, Solana tergerus 1,23% ke US$ 84, dan XRP jadi yang paling babak belur dengan koreksi 2,1% ke US$ 1,36. Dogecoin turun 1,65% ke US$ 0,1. Indeks CoinDesk 20 terpangkas 0,17%, cermin dari pelemahan yang cukup merata di seantero pasar kripto.
Analis The Kobeissi Letter menyebut trifecta ini, minyak mahal, yield tinggi, dan ekspektasi inflasi yang membengkak, sebagai kombinasi paling tidak bersahabat bagi kripto. Trader dan analis Michaël van de Poppe senada. "Dua faktor tersebut tidak mendukung aset risk-on termasuk Bitcoin. Pasar membutuhkan pembalikan arah yield dan harga minyak untuk memulihkan sentimen positif," ujarnya. Van de Poppe menandai area US$ 75.000-76.000 sebagai support krusial. Kalau level itu jebol, proses akumulasi bisa berlangsung jauh lebih panjang sebelum rebound muncul.
Menariknya, eh, bukan. Bukan menariknya. Lebih tepatnya: ada suara lain yang terdengar di antara kebisingan pasar. Sebagian trader membaca kondisi ini sebagai siklus yang berbeda dari bear market sebelumnya. Pesimisme yang terlalu tebal, dalam logika kontrarian, justru bisa jadi sinyal. Entah betul atau tidak, setidaknya itu klaim yang beredar.
Satu ironi yang tidak bisa diabaikan: emas pun ikut kena tampar. Harga emas spot jatuh di bawah US$ 4.500 per ons troi, menyentuh level terendah sejak akhir Maret. Ketika safe haven pun tertekan, artinya bukan cuma kripto yang dijauhi. Pasar sedang mengurangi eksposur secara menyeluruh, titik.
Bagi investor ritel yang sudah masuk di harga atas, US$ 75.000-76.000 layak dijadikan patokan. Tembus ke bawah? Bukan waktunya panik, tapi juga bukan waktunya averaging down tanpa hitung-hitungan yang matang.