MINGGU, 27 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Bitcoin Tersungkur ke $80.000-an, Inflasi AS Jadi...

Finansial

Bitcoin Tersungkur ke $80.000-an, Inflasi AS Jadi Biang Kerok

Lonjakan CPI April 2026 ke level tertinggi sejak 2023 memukul pasar kripto global. Bitcoin anjlok ke kisaran US$ 80.000-an sementara pasar mulai memperhitungkan ulang arah suku bunga The Fed.

Harga Bitcoin (BTC) Tumbang, Dihantam Inflasi AS - Halaman all

Inflasi AS bukan sekadar angka statistik kali ini. Bagi pasar kripto, data CPI April 2026 yang dirilis kemarin cukup keras untuk mengirim Bitcoin terpelanting ke bawah US$ 81.000.

Pada Rabu (13/5/2026) pagi waktu Jakarta, BTC diperdagangkan di kisaran US$ 80.656 per koin, turun 1,39% dalam 24 jam terakhir atau setara sekitar Rp 1,41 miliar per koin. Kapitalisasi pasar kripto global ikut terkikis 1,47% menjadi US$ 2,68 triliun. Bukan main.

Pemicunya cukup jelas. Departemen Tenaga Kerja AS mencatat CPI April 2026 naik 3,8% secara tahunan, level tertinggi sejak 2023. Lonjakan itu sebagian besar datang dari sektor energi yang meledak hampir 18% secara tahunan, buntut konflik AS-Iran yang mengacak-acak pasokan minyak global. Secara bulanan, indeks energi naik 3,8% dan menyumbang lebih dari 40% dari total kenaikan inflasi bulan itu.

Cukup untuk membuat pasar kembali menghitung peluang The Fed mengerek suku bunga. Data terbaru CME FedWatch Tool menunjukkan ekspektasi suku bunga bertahan tinggi sepanjang 2026 bahkan hingga tahun depan. Agaknya sudah cukup untuk menyedot likuiditas dari aset-aset berisiko, kripto di antaranya.

Lembaga riset pasar The Kobeissi Letter blak-blakan soal ini. "Kita kembali menghadapi inflasi seperti masa pascapandemi di tengah lonjakan harga minyak," tulis mereka di platform X. Perbandingan yang tidak nyaman.

Altcoin pun kena getahnya. Ethereum ambles 2,47% ke US$ 2.282, Solana terpukul 2,94% ke US$ 94,69, XRP terkoreksi 2,06% ke US$ 1,44, dan Dogecoin turun 0,78% ke US$ 0,11. Indeks CoinDesk 20 tergerus 1,93%. Satu-satunya yang melawan arus: Binance Coin justru menguat tipis 0,36% ke US$ 666.

Dari sisi teknikal, trader kripto Michaël van de Poppe menyebut level 21-day moving average di US$ 78.800 sebagai garis pertahanan yang harus dijaga. Kalau US$ 76.000 jebol, kata dia, koreksi bisa lebih dalam dari perkiraan siapa pun. Material Indicators menyoroti resistance kuat di area 200-day SMA sekitar US$ 82.600. "Bull tampaknya mencoba membangun support baru di US$ 80.700 untuk kembali menembus 200-day SMA," catat mereka.

Terjepit. Itulah posisi Bitcoin sekarang. Support mengintai dari bawah, resistance menekan dari atas. Pertanyaannya bukan lagi soal inflasi, kalau data ini bisa dipercaya sebagai sinyal tunggal. Yang lebih krusial: apakah momentum beli masih cukup untuk mendorong BTC melewati US$ 82.600 sebelum tekanan makro berikutnya datang menghantam.