KAMIS, 24 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Bitcoin Tembus US$81.500, Tapi Pekan Ini Bukan Wak...

Finansial

Bitcoin Tembus US$81.500, Tapi Pekan Ini Bukan Waktu untuk Lengah

Bitcoin bergerak di zona hijau awal pekan dengan harga US$81.568, namun kalender makro yang padat dan retorika geopolitik Trump soal Iran membuat trader enggan terlalu euforia.

Bitcoin Bidik US$83.400, Tapi Peringatan Trump soal Iran dan Pekan CPI Bikin Trader Waspada - BeInCrypto Indonesia

Harga bitcoin menyentuh US$81.568, atau sekitar Rp1,41 miliar per koin, pada Senin pagi, naik 1,13% dalam 24 jam terakhir dan melambung lebih dari 4% sepanjang pekan lalu. Ethereum ikut menghijau, dan secara umum pasar kripto bergerak kompak ke atas.

Tapi ada alasan kuat untuk tidak terlalu jumawa.

Perkan ini, pasar akan disambut barisan data ekonomi Amerika Serikat yang sanggup membalik sentimen dalam hitungan menit. Selasa ada rilis Consumer Price Index (CPI) April, Rabu giliran Producer Price Index (PPI) plus laporan bulanan OPEC, Kamis data penjualan ritel, dan Jumat produksi industri. Bukan sekadar statistik rutin. Masing-masing berpotensi menggeser ekspektasi pemotongan suku bunga The Fed untuk dua pertemuan FOMC berikutnya.

CPI tetap jadi primadona. Kalau angkanya lebih jinak dari konsensus, appetite risiko bisa terkerek dan bitcoin berpeluang menembus resistance berikutnya. Sebaliknya, inflasi yang membandel artinya The Fed punya alasan lebih untuk menunda pelonggaran, dan itu biasanya tidak ramah buat aset spekulatif.

Secara teknikal, bitcoin agaknya sedang di persimpangan kritis. Harga bergerak di dalam channel naik yang terbentuk sejak awal April, ketika BTC masih berkutat di sekitar US$60.000. Pemulihan sekitar 35% dari level terendah Februari bukan angka kecil, dan arus masuk ke produk ETF bitcoin spot menjadi tulang punggung reli ini. Dana bersih yang masuk mencapai sekitar US$2,7 miliar dalam sembilan sesi berturut-turut di akhir April, dengan IBIT milik BlackRock dan FBTC milik Fidelity mendominasi. Total aset produk bitcoin spot di AS kini sudah melampaui US$100 miliar.

Resistance terdekat ada di exponential moving average (EMA) 200 hari pada US$82.036, level yang sudah beberapa kali menolak harga sejak breakdown Januari lalu. Kalau bitcoin berhasil ditutup harian di atasnya, itu menjadi kali pertama dalam hampir empat bulan, dan secara teknikal membuka jalan ke target Fibonacci 61,8% di US$83.399. Proyeksi lebih jauh dari struktur channel mengarah ke US$86.500, dengan syarat pembeli mampu menyerap tekanan jual di area US$83.400.

RSI harian kini di 65,56. Masih oke. Tapi batas overbought di 70 sudah terlihat di depan hidung, secara historis, ketika RSI harian menembus level itu, bitcoin kerap masuk fase pendinginan jangka pendek. Sinyal momentum memang positif, tapi breakout yang valid masih butuh konfirmasi volume.

Sisi downside-nya? Jika harga gagal bertahan dan ditutup di bawah US$78.915 (Fibonacci 50%), struktur channel bisa jebol dan skenario retest ke US$74.431 terbuka lebar.

Belum selesai di situ. Trump mengunggah pernyataan di Truth Social yang menyerang Iran, menyoroti klaim bahwa pemerintahan Obama memberi Teheran US$1,7 miliar dalam bentuk uang tunai. Tidak ada pengumuman sanksi baru atau aksi militer, tapi retorika seperti ini cukup untuk mengingatkan pelaku pasar bahwa risiko geopolitik belum kemana-mana. Entah kebetulan atau tidak, unggahan itu muncul tepat saat BTC sedang berjuang merebut resistance US$81.000 di akhir pekan.

Satu hal yang luput dari banyak perhatian: Jumat ini adalah hari terakhir Jerome Powell menjabat sebagai Ketua The Fed. Transisi kepemimpinan di bank sentral terbesar dunia, di saat inflasi masih belum tuntas, adalah faktor kejutan yang tidak bisa begitu saja dikesampingkan.

Bitcoin memang sedang dalam jalur pemulihan yang terstruktur. Pekan ini ujian sesungguhnya, bukan sekadar soal chart.