Harga Bitcoin (BTC) masih belum mampu merebut kembali level US$60.000 pada Sabtu (27/6/2026), setelah hari sebelumnya dihajar tekanan jual yang cukup brutal hingga menyentuh US$58.426, menjadi salah satu titik terendah yang pernah terlihat sejak Oktober 2024.
Pada pukul 09.06 WIB, BTC tercatat di US$59.903 atau sekitar Rp1,06 miliar per koin menggunakan kurs Rp17.952 per dolar. Naik tipis 1,75 persen dalam 24 jam, memang, tapi grafik sepekan masih menceritakan kisah yang berbeda: turun 5,58 persen.
Pemicu utama kejatuhan Jumat bukan sekadar sentimen negatif biasa. Data CoinGlass mencatat hampir US$800 juta posisi long kripto dilikuidasi dalam rentang 24 jam, angka yang cukup untuk menggambarkan betapa paniknya sebagian investor jumbo melepas posisi. BTC sempat terkoreksi 3 persen dalam sehari perdagangan sebelum akhirnya menemukan sedikit pijakan.
Soal pemulihan tipis Sabtu pagi ini, agaknya jangan terlalu bersemangat dulu. Kenaikan ini lebih bersifat technical rebound dari kondisi jenuh jual di dekat level support kunci, bukan sinyal pembalikan arah yang sesungguhnya. Belum ada katalis bullish baru yang masuk. Pasar kripto lebih luas pun cuma naik 0,63 persen, sejalan dengan pergerakan BTC yang memang tidak sendirian dalam pemulihan terbatas ini.
Kapitalisasi pasar Bitcoin hari ini mencapai US$1,2 triliun atau setara Rp21.432 triliun. Besar di atas kertas. Tapi konteksnya cukup untuk bikin holder ritel gelisah: BTC sudah amblas sekitar 30 persen sepanjang 2026, koreksi yang menempatkan banyak yang masuk di harga tinggi kini dalam posisi nyangkut cukup dalam.
Level US$60.000 kini bukan sekadar angka psikologis. Ini batas yang menentukan apakah tekanan jual akan mereda atau justru membuka ruang koreksi lanjutan. Selama BTC belum menutup perdagangan harian di atas level tersebut secara konsisten, pemulihan yang sedang berlangsung ini masih bisa runtuh kapan saja, kalau data ini bisa dipercaya sebagai pijakan, dengan sedikit dorongan dari sentimen negatif berikutnya.