Hitung mundur menuju Bitcoin halving 2028 resmi dimulai. Data jaringan real-time menunjukkan tersisa kurang dari 100.034 blok sebelum blok ke-1.050.000 terbentuk, penanda hitung mundur besar pertama sejak halving April 2024 yang tercatat pada blok 840.000.
Setelah halving berikutnya berlangsung, reward penambang bitcoin dipangkas dari 3,125 BTC menjadi 1,5625 BTC per blok. Separuhnya. Mekanisme ini bukan hal baru, tapi konteks di balik halving 2028 berbeda secara fundamental dari empat peristiwa sebelumnya.
Halving 2012, 2016, 2020, dan 2024 semuanya terjadi sebelum ETF Bitcoin spot hadir dalam skala besar di Amerika Serikat. Halving 2028 adalah yang pertama berlangsung ketika akumulasi institusional bukan sekadar ada, melainkan sudah mencapai skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Strategy saat ini menggenggam 843.738 BTC, sementara BlackRock memegang 817.138 BTC, bersama-sama mewakili sekitar 7,9% dari total pasokan maksimal 21 juta koin. Angka yang tidak kecil.
Dengan hashrate Bitcoin yang terus memecahkan rekor sepanjang 2025 dan memasuki 2026, persaingan antar penambang menjelang 2028 berada di level paling intens sepanjang sejarah jaringan ini. Bak pedang bermata dua: penambang efisien akan bertahan, tapi yang tidak mampu menekan biaya produksi di bawah reward blok baru berpotensi tersingkir sebelum satu pun blok halving terbentuk.
Sementara hitungan blok terus berdetak, pasar Bitcoin justru masuk fase yang, menurut K33 Research, agaknya belum pernah terjadi sepersis ini. Kepala Riset K33, Vetle Lunde, mencatat bahwa rata-rata funding rate Bitcoin selama 30 hari telah bertahan di zona negatif selama 81 hari berturut-turut, mendekati rekor terpanjang dalam sejarah derivatif Bitcoin. "Pasar bullish yang kurang agresif pada 2025 menciptakan fondasi untuk pasar bearish yang lebih moderat pada 2026," tulis Lunde.
Para trader bersikap defensif secara tidak biasa. Berbeda dari fase bearish 2018 dan 2022 yang diwarnai posisi spekulatif yang akhirnya meledak, koreksi kali ini berlangsung tanpa euforia. Basis tahunan kontrak berjangka Bitcoin di CME sempat amblas di bawah 2,5%, level yang secara historis identik dengan kehati-hatian ekstrem. "Pergerakan lambat saat ini belum menghasilkan dinamika seperti itu. Data derivatif justru menunjukkan sentimen yang sangat pesimistis," tulis Lunde.
Harga BTC sendiri sempat berada di kisaran US$ 76.635, turun hampir 5% dalam sepekan. K33 menilai level US$ 60.000 yang sempat menjadi titik terendah Februari lalu kemungkinan besar adalah koreksi terdalam siklus ini. Risiko belum hilang sepenuhnya. Open interest derivatif masih tinggi, dan arus keluar ETF Bitcoin spot di AS tercatat mencapai US$ 1,6 miliar hanya dalam lima hari terakhir.
Pertanyaannya: berapa lama ketahanan ini bertahan kalau harga tergelincir lagi?
Bagi investor jangka panjang, penanda 100.000 blok ini semestinya menjadi pengingat keras. Mekanisme pasokan terprogram Bitcoin, yang menjadi inti argumen kelangkaannya, sedang berputar kembali. Apakah pasar sudah cukup siap menghadapi halving pertama di era institusional, itu pertanyaan yang jawabannya baru akan terlihat dua tahun lagi.