JUMAT, 2 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Bitcoin Dihajar Gelombang Likuidasi, Sentimen Makr...

Finansial

Bitcoin Dihajar Gelombang Likuidasi, Sentimen Makro Jadi Biang Kerok

Bitcoin sempat terjun ke US$76.551, level terendah sejak awal Mei, seiring memanasnya konflik AS-Iran dan keluarnya lebih dari US$1 miliar dari ETF spot bitcoin pekan lalu.

Gelombang likudasi seret harga kripto turun 2,2%

Senin pagi waktu Asia, pasar kripto terguncang cepat. Bitcoin sempat menyentuh US$76.551, level terendah sejak 1 Mei, sebelum sedikit memangkas kerugian ke kisaran US$76.800 menjelang sesi London dibuka.

Hanya dalam 15 menit awal perdagangan Asia, data Coinglass mencatat likuidasi posisi bullish hampir US$500 juta. Dalam 24 jam penuh hingga awal sesi Eropa, total long yang terlikuidasi menembus sekitar US$590 juta, menyeret Ether dan Solana ikut tergerus.

Pemicunya bukan dari dalam ekosistem kripto sendiri. Ketegangan AS-Iran yang belum mereda, plus nihilnya perkembangan soal pembukaan kembali Selat Hormuz, membuat selera risiko global anjlok. Harga minyak naik, imbal hasil obligasi melonjak, saham Asia amblas. Bitcoin, yang selama ini kerap diklaim sebagai "aset safe haven", bergerak mengikuti aset berisiko lainnya. Bak gayung bersambut, tekanan dari semua penjuru datang bersamaan.

"Penurunan harga bitcoin adalah cerita makro. Selera risiko telah berubah, dan bitcoin bergerak seiring dengan itu," kata analis BTC Markets Rachael Lucas.

Tekanan jual makin deras setelah harga menembus support penting di sekitar US$77.800. Lucas menyebut area pertahanan berikutnya berada di kisaran US$76.000 hingga US$76.800. Penutupan di atas US$80.000, kata dia, baru bisa dianggap sinyal awal bahwa tekanan jual mulai mereda, setidaknya itu klaim yang masih perlu dibuktikan pasar.

Data Deribit memperlihatkan konsentrasi posisi bearish di level US$77.500. Investor tercatat membeli opsi jual senilai sekitar US$38 juta untuk jatuh tempo 18 Mei. Bukan sinyal yang menggembirakan.

Arus keluar ETF spot bitcoin di AS pekan lalu menembus lebih dari US$1 miliar, terbesar sejak akhir Januari. Angka yang tidak main-main. Ini cermin betapa cepatnya institutional money menarik kaki ketika makroekonomi memburuk.

Sean McNulty, Kepala Perdagangan Derivatif Asia-Pasifik FalconX, menilai penurunan tajam ini banyak dipicu aksi stop run, dengan minimnya katalis positif memperparah situasi. "Kelemahan tersebut diperparah oleh aksi lindung nilai terhadap penurunan harga yang masih berlanjut dari minggu lalu," kata McNulty.

Pernyataan Donald Trump yang menyatakan "jam terus berdetak" bagi Iran untuk mencapai kesepakatan agaknya cukup menjaga pasar tetap gelisah. Pertanyaannya, berapa lama tekanan ini bertahan? Entah kebetulan atau tidak, level US$76.000 kini menjadi garis yang akan banyak ditonton trader pekan ini.