RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Bir Tawil: Tanah Tak Bertuan yang Ternyata Ramai D...

Internasional

Bir Tawil: Tanah Tak Bertuan yang Ternyata Ramai Diklaim

Secara hukum internasional tidak dimiliki siapapun, namun Bir Tawil justru dihuni ribuan tahun oleh suku Ababda dan kini menjadi pusat tambang emas yang berkembang pesat.

Tidak ada di peta resmi manapun. Tidak ada pemerintahan, tidak ada hukum, tidak ada sinyal telepon. Itulah narasi populer tentang Bir Tawil, wilayah seluas setengah Rhode Island yang terhimpit di perbatasan Mesir dan Sudan, dan tidak diklaim oleh keduanya.

Narasi itu, agaknya, perlu direvisi.

Sepotong fakta yang sering luput dari perdebatan geopolitik: kawasan berbatu dan berpasir ini sudah didiami manusia jauh sebelum konsep negara-bangsa bahkan ada. Suku Ababda, komunitas nomaden yang jejaknya bisa dilacak setidaknya sejak era Kekaisaran Romawi, telah menjadikan Bir Tawil sebagai rumah turun-temurun mereka. Dean Karalekas, peneliti rekanan di Pusat Studi Austronesia Universitas Lancashire yang mengunjungi wilayah ini pada 2020, tidak menemukan hamparan kosong yang digambarkan banyak penulis Barat.

Yang ia temukan justru sebaliknya.

"Kami terkejut dengan betapa majunya daerah itu, dengan perkemahan permanen dan iring-iringan truk yang penuh dengan pekerja," tulisnya dalam memoar berjudul The Men in No Man's Land. Pemukiman berfungsi penuh telah berdiri, lengkap dengan jalan utama yang ramai, toko, dan restoran kecil yang melayani para penambang.

Ya, penambang. Bir Tawil ternyata menyimpan emas.

Operasi penambangan di sana mencakup spektrum yang lebar. Ada penambang independen bersenjatakan detektor logam portabel, ada pula operasi industri skala besar dengan ekskavator, bor, trammel, dan pemisah. Ketiadaan pemerintah resmi tidak membuat aktivitas terhenti. Justru sebaliknya, bisa jadi itulah daya tariknya bagi sebagian pihak.

"Bahwa masyarakat ini telah mendiami daerah tersebut selama ribuan tahun tidak diragukan lagi," akui Karalekas.

Jonn Elledge, jurnalis yang menulis A History of the World in 47 Borders pada 2024, mengakui bahwa citranya sendiri tentang Bir Tawil yang "bisa dikatakan kosong" merujuk pada kekosongan administratif, bukan kekosongan fisik. Ia bahkan secara eksplisit membantah label 'tanah tak bertuan' yang sudah terlanjur melekat. "Bir Tawil bukanlah tanah tak bertuan. Bahkan, wilayah ini sangat, sangat diklaim," tegasnya.

Soal klaim, setidaknya sembilan orang pernah mencoba memproklamasikan kedaulatan atas wilayah ini sepanjang bertahun-tahun. Tidak satu pun diakui PBB. Yang paling absurd mungkin kisah Jeremiah Heaton, petani asal Virginia yang pada 2014 melakukan perjalanan ke Bir Tawil lalu mendeklarasikan berdirinya Kerajaan Sudan Utara. Motifnya dikemas manis: ia ingin mewujudkan impian putrinya untuk menjadi putri sejati. Kisah ini sempat viral dan dipuji sebagai gestur mengharukan.

Suku Ababda tidak terkesan.

"Para kepala suku Ababda khawatir bahwa salah satu dari kita mungkin adalah Jeremiah Heaton," ungkap Karalekas, menggambarkan suasana defensif yang ia rasakan saat tiba di wilayah itu. Warga lokal punya sebutan sendiri untuk para pengklaim semacam itu. Karalekas mengutip tanpa tedeng aling-aling: "orang bodoh."

Reaksi keras ini bisa dipahami. Selama ribuan tahun mereka membangun tatanan sosial sendiri, tanpa butuh pengakuan dari Kairo, Khartoum, apalagi seorang petani Virginia yang tiba-tiba mengaku raja. Kini ketika tambang emas menarik perhatian pihak luar, klaim-klaim eksotis dari warga negara asing yang ramai di media sosial terasa bukan sekadar konyol. Mengancam, kata mereka.

Ironi Bir Tawil cukup tajam. Wilayah yang tidak diklaim secara resmi oleh satu negara pun justru paling banyak diperebutkan secara informal. Dan suku Ababda tetap di sana, menambang, berdagang, hidup, persis seperti yang mereka lakukan ribuan tahun silam.