RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Bill Pulte, Bos Intel AS Baru yang Langsung Dimint...

Internasional

Bill Pulte, Bos Intel AS Baru yang Langsung Diminta Pecat Pegawai

Trump menunjuk Bill Pulte, pewaris properti tanpa latar intelijen, sebagai DNI sementara, lalu langsung menginstruksikannya merampingkan komunitas intelijen AS yang mengawasi 18 badan sekaligus.

Kepala Intel Baru AS Mulai Kerja, Tugas Pertamanya Pecat Pegawai

Belum genap seminggu menjabat, Bill Pulte sudah punya pekerjaan rumah yang bukan main beratnya: memecat pegawai di salah satu institusi paling sensitif di Amerika Serikat.

Trump mengonfirmasi kepada wartawan di atas Air Force One, Jumat (5/6/2026), bahwa ia tidak keberatan jika Direktur Intelijen Nasional (DNI) sementara yang baru diangkatnya itu mulai merampingkan personel. Dalam wawancara terpisah dengan The Wall Street Journal, Trump lebih eksplisit: ia mengaku sudah meminta Pulte memulai proses pemutusan hubungan kerja. "Saya ingin dia memulai prosesnya," kata Trump. Bukan kalimat yang ambigu.

Pulte sendiri bukan nama yang lazim di lingkaran intelijen. Pewaris bisnis properti yang sebelumnya memimpin Badan Keuangan Perumahan Federal ini ditunjuk Trump pada Selasa (2/6/2026), tanpa latar belakang militer maupun intelijen. Ia kini, entah kebetulan atau tidak, merangkap dua jabatan sekaligus karena posisi di FHFA belum resmi ditinggalkan. Jabatan DNI sementara tidak memerlukan konfirmasi Senat, artinya Pulte bisa bergerak hingga 210 hari tanpa hambatan legislatif. Trump terang-terangan menyebut status interim itu justru keunggulan: "Anda tidak terlalu terkekang. Hal itu memberi Anda semacam kekuatan lebih, untuk jangka waktu yang agak terbatas."

Komunitas intelijen AS mencakup 18 badan, dari CIA hingga DIA, dengan puluhan ribu personel. Bagi Trump, angka itu kebangetan. "Saya pikir ada banyak orang di sana yang seharusnya tidak berada di sana," ujarnya, seraya mengaitkan resistensi internal dengan sisa-sisa loyalis era Biden dan Obama.

Kontroversi tidak berhenti di soal efisiensi organisasi. Pada Kamis (4/6/2026), Trump mengisyaratkan Pulte akan ditugaskan menyelidiki dugaan kecurangan pemilu 2020, klaim yang sudah berulang kali dibantah pengadilan dan tidak punya landasan hukum. Penugasan serupa pernah diberikan kepada pendahulu Pulte, Tulsi Gabbard, meski DNI memang tidak punya mandat untuk urusan itu. Gabbard belakangan mundur dengan alasan merawat suami yang sakit.

Ada satu detail yang bikin situasi ini makin runyam: rekam jejak Pulte sendiri. Ia pernah menggunakan data hipotek untuk mendukung penyelidikan terhadap sejumlah rival politik Trump, termasuk Gubernur Federal Reserve Lisa Cook, Jaksa Agung New York Letitia James, dan Senator Demokrat Adam Schiff. Preseden itu yang kini membuat Partai Demokrat ogah berkompromi.

Dampaknya langsung terasa di Capitol Hill. Pada Jumat (5/6/2026), para senator memblokir pembaruan undang-undang wewenang pengawasan asing, sebuah kesepakatan yang biasanya berjalan mulus secara bipartisan. Demokrat tegas: mereka tak bisa mendukung perluasan kewenangan pengawasan selama belum ada jaminan jelas soal bagaimana data intel akan dipakai di bawah Pulte.

Gesekan ini pun mulai merambat ke dalam. Sejumlah senator Republik dilaporkan mulai gelisah, khawatir polemik ini menjadi beban menjelang pemilihan paruh waktu November 2026. Keretakan yang agaknya belum akan menutup dalam waktu dekat.

Trump mencoba meredam situasi dengan menyebut jabatan Pulte hanya sementara dan mengklaim sudah mewawancarai lima kandidat untuk posisi definitif. Pasar politik Washington, untuk saat ini, tampaknya belum sepenuhnya percaya.