SELASA, 29 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Biden Hajar Trump: Korup, Narsis, dan Bikin Malu N...

Internasional

Biden Hajar Trump: Korup, Narsis, dan Bikin Malu Negara

Dua tahun setelah keduanya berdebat sengit di panggung capres, Joe Biden kembali melancarkan salvo kritik paling tajamnya terhadap Donald Trump, menyebut proyek-proyek renovasi mewah pemerintahan ini sebagai cermin korupsi terang-terangan.

Biden Sebut Trump Sosok Korup dan Narsistis

Sekitar dua tahun setelah debat capres yang berakhir dengan mundurnya Biden dari pencapresan, mantan Presiden ke-46 AS itu memilih panggung penggalangan dana Partai Demokrat di sebuah kasino di Maryland untuk melontarkan serangan verbal paling keras yang pernah dia tujukan kepada penggantinya di Gedung Putih.

Dalam pidato berdurasi 10 menit pada Sabtu (27/6) malam, Biden menyasar langsung proyek-proyek renovasi kontroversial yang menjadi ciri khas pemerintahan Trump. Ruang dansa senilai 600 juta dolar AS yang dibangun di lokasi Sayap Timur Gedung Putih. Nama Trump yang sempat terpampang di Kennedy Center sebelum dicopot atas perintah hakim federal. Rencana gapura kemenangan atas nama presiden. Proyek perbaikan Kolam Refleksi Monumen Lincoln yang kini bergulat dengan masalah alga dan dugaan vandalisme. Semuanya Biden jadikan amunisi.

"Bukan hanya proyek-proyek untuk memuaskan egonya," kata Biden kepada hadirin. "Dia merobohkan Sayap Timur Gedung Putih demi membangun ballroom, mencantumkan namanya di Kennedy Center, membangun gapura untuk menghormati dirinya sendiri, bahkan mempekerjakan tukang kolam renang pribadinya untuk memperbaiki Kolam Refleksi. Wah! Benar-benar pecundang."

Tapi Biden tidak berhenti di situ. Kolam Refleksi, baginya, bukan sekadar proyek yang amburadul, melainkan cermin dari sesuatu yang jauh lebih busuk. "Kolam refleksi itu mencerminkan sesuatu yang jauh lebih buruk daripada narsisme dan inkompetensi yang menjadi inti pemerintahan ini," tegasnya. "Yaitu korupsi, korupsi yang dilakukan secara terang-terangan dan tanpa rasa malu. Korupsi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah pemerintahan Amerika."

Soal keuangan pun ikut dipersoalkan. Biden menuding Trump meraup miliaran dolar sejak kembali ke kursi presiden, dan menyebut monetisasi jabatan presiden sebagai salah satu motivasi utama Trump mencalonkan diri. "Trump telah menghasilkan miliaran dolar sejak kembali ke Gedung Putih. Dia tidak punya rasa malu. Terus terang, ini memalukan bagi negara. Menghasilkan uang dari jabatan presiden adalah salah satu alasan dia ingin menjadi presiden," kata Biden. Klaim yang, kalau data ini bisa dipercaya, cukup untuk memancing respons emosional dari pendukung partai.

Yang agaknya paling membakar hadirin: soal kerusuhan 6 Januari 2021. Bak api disiram bensin. Biden menolak mentah-mentah wacana kompensasi bagi para pelaku penyerbuan Gedung Capitol. "Yang membuat saya marah adalah Trump ingin memberikan uang wajib pajak, uang Anda, kepada para pelaku pemberontakan 6 Januari," ujarnya. "Orang-orang ini tidak pantas mendapatkan kompensasi. Mereka pantas dijebloskan ke penjara untuk waktu yang sangat, sangat, sangat lama."

Sampai berita ini diturunkan, Trump maupun Gedung Putih belum memberikan tanggapan langsung.

Langkah Biden ini bukan yang pertama. Sejak meninggalkan Gedung Putih awal 2025, ia aktif menghadiri acara-acara partai di Maryland, South Dakota, dan Delaware, mengambil peran sebagai juru kampanye partai. Tapi situasinya tidak sepenuhnya mulus. Banyak anggota Partai Demokrat yang masih menyimpan kekecewaan atas keputusan Biden mundur terlambat dari pencapresan 2024, keputusan yang sebagian kalangan anggap berkontribusi pada kekalahan partai. Jajak pendapat CNN terbaru yang diselenggarakan SSRS bahkan mencatat hanya 30 persen warga AS yang memiliki pandangan positif terhadap Biden. Angka terendah sepanjang masa jabatannya. Pertanyaannya, berapa lama amunisi lama ini masih relevan?