SABTU, 3 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  BI Papua Latih Puluhan Wartawan Ekonomi di Sentani...

Ekonomi

BI Papua Latih Puluhan Wartawan Ekonomi di Sentani, Ini Alasannya

Bank Indonesia perwakilan Papua menggelar capacity building dua hari untuk wartawan ekonomi se-Jayapura, menekankan pentingnya pemberitaan berbasis data di tengah kompleksitas dinamika ekonomi Papua.

Tiga hari penuh pembelajaran, inspirasi, dan kolaborasi! Melalui kegiatan Capacity Building Wartawan bersama Bank Indonesia, para jurnalis diajak memperdalam wawasan seputar komunikasi publik, kebij

Puluhan wartawan dari berbagai media di Jayapura berkumpul di Hotel Sunni Sentani, dua hari penuh, 3-4 Juli 2026, untuk mengikuti Capacity Building Wartawan Ekonomi yang digelar Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Papua. Forum ini bukan agenda seremonial biasa. Kebutuhan masyarakat Papua akan liputan ekonomi yang akurat dan bisa dicerna sudah lama mendesak.

Kepala Perwakilan BI Papua, Warsono, membuka acara dengan satu argumen yang langsung nge-kena: pers adalah jembatan yang menentukan apakah kebijakan publik benar-benar sampai ke pemahaman masyarakat, atau hanya berhenti di atas kertas. Ia menyebut hal itu dalam konteks perekonomian global dan domestik yang kian kompleks. "Pemberitaan yang berimbang dan berbasis data akan membantu membangun optimisme, memperkuat kepercayaan publik, sekaligus mendorong pengambilan keputusan ekonomi yang lebih baik oleh masyarakat," tegasnya.

Konteks Papua memang khas. Wilayah yang luas, keberagaman budaya yang luar biasa, tantangan pembangunan yang tidak bisa disamakan dengan provinsi lain. Jurnalis Papua, sadar atau tidak, kerap jadi satu-satunya penghubung antara kebijakan makroekonomi Jakarta dengan realitas lapangan. Soal inflasi bahan pokok. Soal UMKM lokal yang mati suri atau justru tumbuh. Soal potensi investasi yang belum banyak terekspos ke publik.

Lewat forum ini, BI Papua berharap para wartawan bukan sekadar tahu cara menulis berita ekonomi, melainkan benar-benar mengerti apa yang mereka liput. Cakupannya lebar: kebijakan moneter, sistem pembayaran, stabilitas sistem keuangan, sampai pengendalian inflasi di level regional. Agaknya, BI sadar bahwa kapasitas jurnalis ekonomi di daerah masih perlu terus dipacu.

Warsono menekankan bahwa relasi BI dan insan pers bukan hubungan transaksional sempit. Bukan sekadar sumber berita di satu sisi, pemberita di sisi lain. "Kolaborasi yang kuat antara Bank Indonesia dan insan pers akan menghasilkan ekosistem informasi yang semakin berkualitas. Dengan kapasitas jurnalistik yang terus berkembang dan didukung pemahaman ekonomi yang semakin baik, pemberitaan yang dihasilkan tidak hanya informatif, tetapi juga mampu memberikan nilai edukasi, memperkuat literasi ekonomi masyarakat, serta mendukung terciptanya stabilitas dan pertumbuhan ekonomi yang inklusif di Tanah Papua," ujarnya. Klaim besar. Yang pembuktiannya ada di konsistensi program serupa tahun-tahun mendatang.

Bagi wartawan yang hadir, dua hari di Sentani ini bisa jadi lebih dari sekadar agenda peliputan. Literasi ekonomi yang lebih solid di tangan jurnalis daerah, kalau benar-benar terserap, dampaknya bisa terasa jauh ke pelosok Papua. Pertanyaannya sederhana: seberapa sering BI Papua mau repot-repot datang lagi?