Kredit perbankan April 2026 memberi sinyal yang cukup menggembirakan. Bank Indonesia mencatat pertumbuhan sebesar 9,98% secara tahunan, naik dari 9,49% pada Maret. Arah yang benar. Tapi momentum itu kini berhadapan dengan tembok baru.
Keputusan BI mengerek suku bunga acuan 50 basis poin ke level 5,25% agaknya akan menjadi ujian serius bagi laju intermediasi perbankan sepanjang sisa tahun ini. Kenaikan sebesar itu bukan hal kecil, dan para analis sudah mulai menghitung ulang proyeksi kredit mereka.
Sepanjang April, ekspansi kredit masih ditopang terutama oleh kebutuhan investasi, yang melesat 19,48% secara tahunan, jauh meninggalkan dua segmen lainnya. Kredit modal kerja hanya tumbuh 6,04%, kredit konsumer naik 6,13%, keduanya masih dalam zona moderat.
Struktur pertumbuhan ini layak dicermati. Ekspansi investasi yang kuat mencerminkan masih adanya selera korporasi untuk tumbuh, tapi kredit konsumer yang relatif jinak bisa jadi pertanda daya beli rumah tangga belum sepenuhnya pulih. Dengan bunga yang kini lebih tinggi, tekanan pada segmen ini bisa makin terasa, entah kebetulan atau tidak, justru saat konsumsi domestik masih butuh napas.
BI tampaknya tidak tinggal diam. Bank sentral menyatakan punya sejumlah langkah untuk tetap mendorong pertumbuhan ekonomi, termasuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang disebut akan membaik pasca kenaikan rate. Klaim yang masih perlu dibuktikan, kalau data historis bisa jadi acuan, pasar valas tidak selalu bergerak sesuai skenario bank sentral mana pun.
Bagi sektor perbankan, dilema ini bukan baru. Bunga naik, cost of fund ikut merangkak, dan bank harus memilih antara menjaga margin atau mempertahankan volume penyaluran kredit. Pilihan yang menyakitkan. Target pertumbuhan kredit dua digit yang sempat dicanangkan sejumlah bank besar kini patut dipertanyakan ulang.
Pertanyaan yang lebih relevan buat investor saham perbankan: apakah kenaikan BI Rate ini akan dihajar lebih berat pada sisi net interest margin, atau justru pada kualitas aset? Jawaban atas itu kemungkinan baru terlihat jelas di laporan keuangan kuartal ketiga.