SABTU, 17 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Bessent: Ekonomi Iran Bisa Runtuh dalam Hitungan M...

Internasional

Bessent: Ekonomi Iran Bisa Runtuh dalam Hitungan Minggu

Menteri Keuangan AS Scott Bessent memperingatkan ekonomi Iran berpotensi kolaps dalam beberapa minggu hingga bulan ke depan, seiring eskalasi sanksi berlapis yang kini merambah sektor penerbangan, emas, hingga perkapalan.

Enam bulan sanksi berjalan, dan Washington kini mulai bicara soal keruntuhan. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan ekonomi Iran berpotensi kolaps "dalam beberapa minggu atau bulan" jika rezim Teheran terus menolak kembali ke meja perundingan. Pernyataan itu disampaikan Bessent kepada wartawan di sela-sela pertemuan menteri keuangan dan gubernur bank sentral G20 di Asheville, North Carolina.

Sanksi terbaru yang dijatuhkan AS pekan lalu menyasar lima sektor sekaligus: penerbangan, aset digital, emas, teknologi, dan perkapalan. Bersamaan dengan itu, 60 individu dan sejumlah kapal tertentu masuk daftar hitam. "Anda akan melihat lebih banyak hal seperti ini setiap minggu," kata Bessent menjelang pertemuan para pemimpin keuangan G20. Ia menambahkan bahwa bank-bank sudah diberi tahu untuk berhenti menyimpan dana Iran dan membantu rezim tersebut mengakses sistem keuangan internasional.

Langkah konkret terbaru: sanksi dijatuhkan terhadap cabang-cabang Banque Misr Mesir di Uni Emirat Arab atas dugaan keterlibatan dalam transaksi keuangan dengan Iran. Bessent mengisyaratkan Washington siap memutus akses lembaga semacam ini dari sistem berbasis dolar sepenuhnya. Ancaman yang tidak bisa dianggap enteng oleh institusi keuangan mana pun yang masih ingin bermain di pasar global.

Dukungan Uni Eropa turut memperkuat koalisi tekanan ini. Dalam pertemuan G20 yang sama, Komisi Eropa menyatakan menyambut upaya memastikan Iran menghentikan aktivitas destabilisasinya, termasuk melalui Operation Economic Outcast yang dipimpin AS. Bak gayung bersambut, Washington mendapat legitimasi multilateral untuk kampanye sanksinya.

Teheran tidak tinggal diam. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menyerang balik melalui platform X, menyindir Eropa yang klaimnya menganut "otonomi strategis" tapi dinilai hanya menjalankan perintah Washington. "Eropa tidak dapat lagi berbicara tentang 'otonomi strategis' padahal hanya menjalankan perintah Washington," tulis Baghaei. Agaknya kritik itu lebih ditujukan untuk konsumsi domestik dan audiens Global South ketimbang benar-benar mengubah posisi Brussel.

Dampak pasar? Tidak bisa diabaikan. Ketegangan yang berakar pada serangan AS dan Israel terhadap Iran sejak 28 Februari ini sudah terasa di harga energi: melonjak 14,7% secara tahunan per Juli, sementara harga bensin menembus kenaikan 24,6% dalam 12 bulan terakhir, turut mendorong inflasi di dalam negeri AS sendiri. Ironisnya, emas justru tergerus 0,8% ke level USD 4.419,38 per troy ounce, terendah dalam dua minggu. Wall Street pun tak imun: Nasdaq terkoreksi 0,4%, S&P 500 turun 0,5%, dan Dow Jones amblas 0,6% di hari yang sama.

Bessent menegaskan keruntuhan ekonomi Iran bukan sesuatu yang tak terhindarkan. "Kita hanya perlu membuat rezim itu sadar," ujarnya. Tujuan akhirnya bukan kehancuran, melainkan tekanan yang cukup besar untuk memaksa Teheran duduk bernegosiasi. Pertanyaannya: seberapa jauh Iran bisa bertahan sebelum kalkulasi politiknya berubah?