Standar lama memilih smartphone sudah tidak relevan. Kalau dulu orang cukup bandingkan angka RAM dan jumlah megapiksel, kini pertimbangan itu terasa terlalu dangkal untuk kondisi pasar yang sudah berubah.
Yadi Prayitno, Head of MX Business Samsung Electronics Indonesia, melihat pergeseran ini dari dekat. Konsumennya makin cermat, tidak lagi mudah tergiur gimmick spesifikasi. "Ketika membeli smartphone, mereka tidak hanya mencari teknologi yang canggih, tetapi juga perangkat yang dapat mereka percaya untuk digunakan dalam jangka panjang," kata Yadi.
Dua tekanan datang bersamaan: AI yang semakin menyusup ke kehidupan sehari-hari, dan daya beli yang memaksa orang berpikir ulang sebelum membuka dompet. Satu smartphone kini dituntut menangani pekerjaan, hiburan, transaksi digital, sampai urusan konten kreatif. Perangkat yang hanya unggul di kertas tapi loyo di lapangan, ya mubazir.
AI on-device jadi krusial justru di titik ini. Beda dengan AI berbasis cloud yang bergantung pada koneksi dan server eksternal, pendekatan on-device berarti seluruh proses kecerdasan buatan berjalan langsung di chipset ponsel. Lebih cepat, dan data pengguna tidak perlu kemana-mana. Samsung mengimplementasikan konsep ini lewat Awesome Intelligence dan Galaxy AI, yang mencakup fitur mulai dari terjemahan bahasa real-time hingga pengeditan foto berbasis kecerdasan buatan.
Keamanan data bukan lagi fitur bonus. Ancaman digital terhadap kata sandi, data keuangan, dan dokumen pribadi makin serius, dan proteksi berbasis software saja agaknya tidak cukup lagi. Samsung membenamkan Samsung Knox Vault sebagai lapisan perlindungan berbasis hardware, yang secara arsitektur lebih sulit ditembus ketimbang perangkat lunak biasa.
Tapi aman hari ini tidak otomatis berarti aman dua tahun lagi kalau ponselnya sudah tidak dapat pembaruan sistem. Komitmen update jangka panjang jadi pembeda nyata di sini. Untuk lini entry hingga mid-range, Samsung menawarkan enam generasi OS upgrade dan enam tahun pembaruan keamanan. Flagship mendapat tujuh tahun untuk keduanya. Angka yang, jujur saja, cukup agresif dibanding standar industri yang selama ini berkisar dua hingga tiga tahun.
Satu faktor yang kerap luput dari radar pembeli: ketersediaan produk dan ekosistem distribusinya. Ponsel yang sulit ditemukan di pasaran biasanya juga minim aksesori, jarang dapat diskon servis, dan dukungan jangka panjangnya tanda tanya besar. Samsung mengklaim rantai pasokannya terintegrasi dari hulu, mulai dari semikonduktor dan memori sampai perangkat keras dan layanan digital, sehingga stok di lapangan lebih terjaga.
Soal kemudahan kepemilikan, ini bukan urusan sepele saat daya beli masih tertekan. Program cicilan, tukar tambah, cashback, hingga layanan Finance+ jadi instrumen yang membantu konsumen masuk ke ekosistem premium tanpa harus keluar biaya penuh di muka. Yadi menegaskan fleksibilitas ini bukan sekadar strategi penjualan. "Kami ingin memastikan lebih banyak masyarakat dapat menikmati teknologi Samsung dengan lebih mudah melalui berbagai pilihan kepemilikan yang fleksibel, ketersediaan produk yang terjaga, serta jaringan layanan purna jual yang luas," ujarnya.
Jaringan purna jual Samsung kini mencakup lebih dari 160 titik layanan yang tersebar di 133 kota, dari Aceh sampai Papua. Rp10 juta melayang untuk flagship, tapi tidak ada bengkel resmi dalam radius wajar? Bak gayung bersambut yang tidak pernah ketemu.
Memilih smartphone bukan lagi soal siapa yang punya angka tertinggi di kotak spesifikasi. Perangkat yang benar-benar bernilai adalah yang masih nyaman dipakai tiga atau empat tahun dari sekarang, masih menerima pembaruan keamanan, dan masih ada tempat servisnya kalau layarnya tiba-tiba retak.