Sepanjang pekan terakhir Juni 2026, asing sempat kembali melirik PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI). Pada perdagangan Jumat 26 Juni, investor asing membukukan net buy Rp75,14 miliar di saham emiten bank BUMN terbesar ini, berbalik dari dua hari sebelumnya yang terus dihajar net sell. Maybank Sekuritas Indonesia menjadi broker paling aktif di sisi beli, mencatatkan net buy asing Rp124,2 miliar untuk BBRI di hari yang sama.
Angin segar itu tidak langsung berlanjut. Memasuki sesi pertama perdagangan Senin 6 Juli 2026, BBRI justru berbalik merah, turun 0,74% ke Rp2.690 per saham dengan nilai transaksi Rp233,13 miliar. Net sell pada sesi tersebut tercatat Rp81,8 miliar. Bukan timing yang ideal.
Di sisi fundamental, ada cerita berbeda. KB Valbury Sekuritas memproyeksikan laba bersih konsolidasi BBRI pada semester I-2026 sebesar Rp28,97 triliun, tumbuh 10,2% secara tahunan. Untuk basis bank only, angkanya ditaksir Rp26,59 triliun atau naik 7,25% year-on-year. Analis KB Valbury Akhmad Nurcahyadi menyebut estimasinya untuk kuartal II terbilang konservatif, kalau data ini bisa dipercaya, angka konsensus pasar bahkan bisa mendorong pertumbuhan laba semester I lebih tinggi dari yang mereka hitung.
Valuasi P/B 2026 hanya di kisaran 1,2 kali, sedikit di bawah level minus dua standar deviasi historisnya. Zona yang oleh banyak analis disebut sangat murah. KB Valbury mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp4.010 berbasis Gordon Growth Model, setara P/B 1,8 kali.
Rp4.010. Angka yang tidak main-main, mengingat harga saat ini masih berkutat di bawah Rp2.700.
Katalis untuk mengejar selisih itu bukan tanpa dasar. Pertumbuhan kredit yang melampaui ekspektasi, perbaikan kualitas aset yang menekan biaya pencadangan, serta potensi pendapatan non-bunga yang lebih kuat disebut sebagai faktor pemantik. Risiko yang perlu diawasi juga jelas: pertumbuhan kredit yang melambat, kenaikan cost-to-income ratio, dan tekanan rupiah yang bisa bikin sentimen pasar makin murung.
Dari sisi teknikal, IPOT merekomendasikan beli BBRI di kisaran Rp2.830-Rp2.850, dengan target Rp3.030 dan stop loss di Rp2.740. Equity Analyst IPOT Brigita Kinari menjelaskan posisi saham ini masih bertahan di atas EMA 5, sementara indikator LADI mengisyaratkan akumulasi yang belum selesai. "Sentimen positif ini kian diperkuat oleh data broker summary per 26 Juni 2026 yang mencatat aksi akumulasi asing (foreign net buy) mencapai Rp75,1 miliar, menandakan kembalinya minat pemodal besar yang dapat memicu technical rebound," kata Brigita dalam risetnya.
CGS International Sekuritas punya hitungan yang sedikit berbeda. Broker ini memasang spec buy untuk BBRI dengan support di 2.810 dan potensi naik ke 2.930-2.990 dalam jangka pendek. Cutloss disarankan jika harga jebol ke bawah 2.750.
Kiwoom Sekuritas melihat level 2.690 dan 2.675 sebagai support pertama dan kedua, dengan pivot di 2.715 dan resistance pertama 2.730.
Backdrop pasar yang lebih luas tidak terlalu mendukung. IHSG sepanjang pekan 22-26 Juni 2026 amblas 4,55%, dengan net sell asing di pasar reguler yang menembus Rp3,19 triliun. IPOT menyebut indeks masih dalam downtrend jangka menengah dan berpotensi menguji support 5.700-5.800 dalam waktu dekat. Bukan kondisi yang membuat investor ritel bisa santai beli dan tinggalkan.
Pertanyaannya, berapa lama tekanan ini bertahan?
BBRI secara fundamental murah, secara teknikal sedang diakumulasi asing, tapi bergerak di dalam pasar yang sedang tidak ramah. Buat investor dengan horizon lebih panjang, target Rp4.010 dari KB Valbury agaknya masuk akal. Yang main pendek, kisaran Rp2.830-2.850 bisa jadi area masuk, dengan catatan stop loss dijaga ketat di bawah Rp2.740.