Rp1,57 triliun. Cukup untuk menempatkan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) di puncak daftar nilai transaksi Bursa Efek Indonesia pada perdagangan Jumat, 8 Mei 2026, sekaligus membuktikan bahwa big bank punya gravitasi sendiri, apapun kondisi pasarnya.
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menyusul di posisi kedua dengan Rp1,36 triliun. Lengkaplah dominasi perbankan di dua besar. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) masuk urutan ketiga senilai Rp1,03 triliun, diikuti PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) Rp973 miliar, dan PT Astra International Tbk (ASII) Rp655 miliar.
Blue chip memang menyedot likuiditas. Tapi bukan di sana cerita sesungguhnya.
Justru di lapisan tengah dan bawah, pergerakan harga yang terjadi terasa lebih dramatis. MPOW memimpin top gainers dengan lonjakan 34,55 persen. MEDS tidak jauh di belakang, naik 34,48 persen. Sektor kesehatan ikut pesta: IRRA melonjak 25,00 persen, PEHA menguat 24,83 persen, dan KAEF, yang belakangan kerap jadi tontonan tersendiri di pasar, terapresiasi 24,51 persen.
Bisa jadi ini sinyal rotasi. Atau sekadar noise satu hari.
Sisi berlawanan tak kalah seru. ELPI dan ESIP sama-sama amblas 15,00 persen, persis di batas ARB. DSSA tergerus 14,94 persen, MINA 14,93 persen. Agaknya tidak banyak yang sanggup menahan di saham-saham ini, dan siapapun yang nyangkut di level atas hari itu pasti tidak tidur nyenyak.
Dari sisi asing, ada yang menarik untuk dicermati, eh, lebih tepatnya: kontrasnya cukup mencolok. Foreign net buy terbesar mendarat di BNBR, 133,2 juta lembar. Sementara GOTO jadi sasaran aksi jual bersih asing paling masif: 672,2 juta lembar saham berpindah tangan ke luar. Angka yang tidak main-main untuk satu hari perdagangan.
Kesimpulan sederhananya: likuiditas parkir di blue chip, volatilitas milik small cap. Pola lama yang, entah kebetulan atau tidak, terus berulang setiap kali pasar kehilangan arah.